Miskin Akut

Windmill – Jakarta

 Dear Mas Dad, TE, Para Sesepuh KoKi, dan KoKiers diseluruh penjuru kolong langit.

Beberapa minggu lalu, di bawah saung pada suatu desa di kabupaten Bogor, saya berbincang dengan seorang ibu membahas beberapa tema kehidupan. Mulai dari kehidupan berkeluarga hingga perkembangan perpolitikan di Indonesia. Tiba-tiba si ibu berkata, “Alhamdulillah yah pak, saya masih dipercaya oleh Allah untuk menerima BaLSeM (baca: Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) dari Pemerintah”.

Saya terdiam sejenak setelah mendengar ucapan si ibu lalu tertawa dengan sangat kerasnya. Si ibu terheran-heran melihat respon saya yang menurutnya sangat aneh lalu kembali berkata, “Saya itu bersyukur karena ada orang lain yang sebelumnya dapat BLT (Bantuan Langsung Tunai) beberapa tahun yang lalu, dan tahun ini malah nggak dapet sama sekali.”

Saya kemudian memohon maaf pada beliau karena tidak ada maksud hati untuk mentertawakan beliau. Kemudian saya bertanya, apakah beliau sadar dengar ucapannya tadi.

Saya berkata, “ Ibu sadar tidak bahwa secara tidak langsung ibu tadi bersyukur karena masih dipercaya oleh Allah jadi orang miskin”.

Dalam hati saya berkata “Jadi miskin koq bangga?”

Dampak dari kenaikan BBM memang selalu diiringi oleh kenaikan beberapa bahan pokok, bahkan kenaikannya dimulai jauh-jauh hari sebelum ditetapkan kenaikannya, belum lagi jika kenaikan tersebut ditetapkan menjelang bulan ramadhan dan dimulainya tahun ajaran baru sekolah seperti yang terjadi di tahun 2013.

Ibaratnya, masyarakat tengah mengalami sesak nafas karena kesulitan ekonomi. Lalu pemerintah membagikan BaLSeM yang dapat digunakan untuk melegakan pernafasan atau mengurut otot si miskin. Namun BaLSeM tersebut memiliki tanggal kadaluarsa yang sangat singkat, hanya 4 bulan.

Jadi dapat dipastikan, begitu BaLSeM mengalami kadaluarsa, si miskin kembali mengalami sesak nafas dan sakit otot yang tak berkesudahan. Karena kemungkinan besar harga-harga enggan turun dari puncaknya.

Bak Sinterklas di tengah kegalauan, pemerintah membagi-bagikan uang sebesar Rp.150.000/bulan selama 4 bulan yang dibayarkan setiap 2 bulan sekali. Namun dapat dibayangkan, dengan kenaikan harga dihampir semua bahan pokok dan transportasi, uang tersebut bisa jadi hanya memiliki arti yang sangat kecil bagi si penerimanya. Belum lagi jika distribusinya bermasalah karena ternyata masih banyak masyarakat yang berbondong-bondong mengaku miskin.

Kemiskinan seperti menjadi sebuah trend tersendiri di Indonesia, karena budaya meminta-minta tanpa bekerja bukanlah sesuatu yang tabu di tengah masyarakat. Fenomena ini semakin tampak nyata terutama di bulan ramadhan, dimana terjadi lonjakan yang cukup signifikan terhadap populasi peminta-minta di jalanan. Seakan didukung oleh pemerintah, karakter mengemis semakin ditumbuh-suburkan dengan pembagian uang cuma-cuma melalui program BLT atau BaLSeM.

Beramai-ramai mengaku miskin
Di suatu sudut kota di Indonesia, seorang kaya raya membagikan zakat untuk masyarakat sekitarnya. Dalam pembagian tersebut, ribuan orang berdesakan untuk dapat memperoleh zakat berupa uang sebesar Rp.30.000,-.

Dengan bangga salah seorang perwakilan keluarga berkata kepada media masa yang meliputnya, bahwa kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap bulan ramadhan dan selalu menghadirkan ribuan orang penerima zakat.

Namun karena banyak warga yang takut tidak kebagian, maka kericuhan pun terjadi. Bahkan memakan korban jiwa sebanyak 21 orang.

Miris rasanya jika nyawa manusia dihargai uang sebesar Rp.30.000,-. Peristiwa yang terjadi di tahun 2008 itu menjadi catatan khusus bagi saya, karena ternyata fenomena ini terus berulang terjadi dalam berbagai kemasan yang berbeda di masyarakat.

Bagi si Kaya, menjadi dermawan adalah hal yang cukup membanggakan. Selain dapat menaikkan pamor individu, juga dijadikan sebagai tolok ukur kemapanannya dalam hidup.

Bagi saya pribadi, zakat itu ibarat manusia yang setiap hari harus “buang air”, karena apabila tidak dikeluarkan akan menjadi penyakit baginya. Lantas apa yang dapat dibanggakan dari kebiasaaan “buang air”?.

Bagi si Miskin, apalah arti harga diri dan keselamatan diri, karena hanya dengan bermodalkan mengantri dan sikut kanan kiri bisa terima uang tanpa harus bersusah payah bekerja. Seakan menjadi karakter bangsa Indonesia, meminta-minta sudah mendarah daging di hampir setiap individu masyarakat bahkan hampir di semua level masyaratanya.

Miskin dan Politik
Dalam suatu forum, saya penah bertanya kepada Anggito Abimanyu yang saat itu tengah menjabat sebagai Kepala Badan Fiskal Kementerian Keuangan, serta sebagai seorang yang ditugaskan secara khusus oleh Presiden untuk memimpin penyaluran BLT tahap II di tahun 2008.

Saya bertanya, mengapa BLT diarahkan pada pembagian uang langsung kepada masyarakat dan tidak diarahkan pada program pendidikan karakter masyarakat.

Beliau hanya menjawab, bahwa ini adalah program pemerintah yang sudah ditetapkan oleh Presiden, dan tidak mampu menjawab mengapa kebijakan tersebut diambil.

Saya baru sadar dikemudian hari, bahwa ternyata kebijakan pembagian BLT tersebut dijadikan sebagai ajang cari muka untuk pemenangan pemilu 2009.

Disadari atau tidak, kemiskinan di Indonesia adalah aset tersendiri dalam perpolitikan. Suara kaum miskin yang jumlahnya sangat signifikan dapat disetir dengan mudah menggunakan materi dalam pelbagai program pro rakyat atau dalam bentuk jual beli suara di pemilu.

Masyarakat miskin pula yang saat ini tengah digarap oleh para tokoh politik sebagai target penarikan simpati rakyat, antara lain dengan program “blusukan” disertai dengan pembagian beberapa keperluan masyarakat marjinal.

Pola pendekatan semacam ini terbukti efektif dalam meningkatkan elektabilitas tokoh apalagi jika kegiatannya rutin dilakukan dan tidak bersifat insidental.

Sosok yang sederhana dan dekat dengan orang miskin lebih mudah diterima oleh masyarakat, karena sebagian besar masyarakat Indonesia lebih menyukai kesederhanaan, terlebih pasca terbongkarnya skandal korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh oknum anggota dan petinggi partai politik.

“Kesederhaan” ini perlahan tapi pasti sudah mulai dilirik oleh partai politik sebagai potensi yang dapat digarap secara khusus untuk memenangkan pemilu tahun 2014 mendatang. Hal ini dapat dilihat dari pelbagai hasil survey dimana terdapat korelasi yang signifikan antara karakter tokoh yang membumi dan tingkat elektabilitasnya.

Amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 yang menyatakan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara,” akan semakin sulit diimplementasikan oleh pemerintah jika karakter manusia Indonesia masih meminta-minta.

Budaya miskin harus lebih ditekan lagi dengan menggalakkan budaya “Malu”, karena urat malu itu sudah lama putus dan menjadikan sebagian besar masyarakat Indonesia “tidak punya malu”.

Foto: www.metrotvnews.com

Windmill – Time goes wherever you are

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Repost, Teropong Negeri Emas and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s