Graffiti Vs. Om-Om Narsis

Windmill – Jakarta

Dear Mas Dad, TE, Para Sesepuh KoKi,dan KoKiers di seluruh penjuru kolong langit.

Hampir di sepanjang jalan, khususnya di jalanan protokol yang dipagari oleh dinding dan tiang penyangga jalan dapat kita temui pelbagai bentuk coretan berupa gambar maupun tulisan (graffiti/grafiti) beraneka pesan.

Foto: respectastreetartgallery.com

Kesan yang pertama kali muncul di benak kita ketika menemuinya adalah coretan tersebut merupakan salah satu bentuk vandalisme yang jorok dan tidak indah sama sekali. Karena kesan kumuh inilah maka grafiti sering menjadi masalah serius bagi pemerintah daerah dalam rangka menciptakan lingkungan yang indah terutama di area publik.

Kebiasaan melukis di dinding sebenarnya sudah dikenal manusia sejak jaman purbakala sebagai bentuk catatan sejarah peradaban dan sarana mistis yang berbau spiritualitas, dan hampir setiap masa di tiap daerah memiliki tradisi grafitinya masing-masing. Seiring perkembangan jaman, grafiti tidak lagi terbatas menggunakan media dinding tapi sudah merambah ke pelbagai permukaan media lainnya antara lain sarana dan prasarana umum lainnya yang mudah dilihat.

Dalam grafiti modern, pesan moral berupa gambar satir politik hingga tulisan yang tak jelas maknanya dapat saja di tuangkan oleh si pembuat graffiti sebagai tanda eksistensi dan ketidakpuasan akan suatu hal ataunperistiwa tanpa harus secara gamblang menunjukkan jati dirinya.

Fenomena maraknya grafiti ini mungkin juga yang menjadi inspirasi bagi Iwan Fals dalam membuat lagu berjudul “Coretan Dinding” yang dirilis tahun 1992, dimana proses rekamannya dilakukan secara live tanpa di edit.

Dalam lagu tersebut, Iwan hanya bernyanyi menggunakan gitar dan harmonika yang dimainkan sendiri tanpa musik pengiring lain dan tanpa backing vokal.

 

Grafiti Vs Om-om Narsis

Semakin hari mendekati tahun 2014 yang juga sering diasumsikan sebagai tahun politik menjadikan atmosfer masyarakat Indonesia semakin panas, pelbagai kebijakan publik dan momen-momen nasional dijadikan sebagai ajang cari muka segelintir manusia yang ingin dikenal sebagai tokoh. Mulai dari kebijakan kenaikan BBM hingga momentum ramadhan atau hari-hari besar nasional lainnya dijadikan sebagai sarana pencitraan untuk menaikkan popularitas dalam rangka menuju pemilu 2014.

Seolah tak mau kalah dengan grafiti disepanjang jalan, muka-muka para pencari popularitas terpampang jelas dibaliho dan spanduk-spanduk dengan ukuran yang sangat besar dibumbuhi senyuman dalam berbagai pose. Jumlahnya pun semakin hari semakin bertambah banyak ibarat jamur yang tumbuh sumbur di musim hujan, dan semakin tak terkendali karena sudah menempel di sembarang tempat yang tidak semestinya.

Terlepas dari benar atau salahnya fenomena “cari muka” di jalanan, masyarakat Indonesia saat ini sudah semakin dewasa dalam menyikapi segala sesuatu. Para pengguna jalan hanya tinggal memilih pemandangan apa yang akan dilihatnya, apakah akan memilih memandangi coretan dinding atau muka-muka narsis dengan janji-janjinya yang kemungkinan besar tak akan pernah terealisasikan.

Selamat memilih…

Windmill – Time goes wherever you are

 

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Repost, Teropong Negeri Emas and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s