Uang Garut

Penulis : Sirpa – Kali Pornia 

 

 

BEBERAPA waktu lalu saya memposting sebuah berita di KokiNewsFlash tentang rencana pemerintah Indonesia yang akan melakukan Redenominasi nilai tukar uang Rupiah. Pemerintah berencanamenciutkan nilai nominal mata uangnya. Semisal dari Rp 1.000 ,- menjadi Rp.1. Rencananya kebijakan ini akan dilaksanakan pada tahun 2017 kelak.

Saya tergeltik mengangkat isue ini, setelah berkelakar dengan seorang sahabat baik saya di KoKi. Dia menggunakan nickname Caridaki. Terkadang saya menyapanya dengan nama panggilan Bang Komodo. Sapaan itu pun terilhami atas avatarnya yang unik, bergambarkan seekor reptilia yang berasal dari sisa-sisa zaman purbakala, yang asal habitatnya dari Pulau Komodo yang nan kesohor itu sebagai New 7 Wonders.

KoKier Caridaki ini lah yang mula-mula secara berkelakar memberitahukan kepada saya, bahwa kejadian pemotongan uang dari Seribu Rupiah menjadi Satu Rupiah pada tahun 1960, itu di daerah Bandung dikenal dengan istilah Uang Garut.

Berhubung muncul rasa penasaran, maka saya pun mencoba beberapa kali mengubek-ubek kamarnya Mas Gugel. Saya ingin mencari tahu lebih jauh tentang arti istilah Uang Garut –mungkin saja memang ada artinya. Tapi setelah mengubek-ubek dan bertanya sana-sini di kamarnya Mas Gugel, nyatanya tidak membawa hasil apa-apa.

Atas dasar itu, saya ini yang masih tergolong kuper dan tidak ngeh pun, menyimpulkan, bahwa istilah Uang Garut yang dimaksudkan tersebut mungkin hanyalah guyonan belaka.

Yang terjadi kemudian, pikiran saya pun mengembara kepada kenangan di masa lalu. Masa-masa sulit sewaktu pemerintahan dipimpin oleh Presiden Sukarno, yang mencoba membangun Republik ini mulai dari nol besar. Yaitu sejak memproklamasikan kemerdekaan RI, menggaji tentara (dengan membentuk BKR -Badan Keselamatan Rakyat yg merupakan cikal bakal TNI kita ), menumpas pemberontakan di daerah (seperti DI/TII, PRRI/Permesta, RMS, Kahar Muzakkar dllnya ), bahkan memadamkan pemberontakan kudeta pertama oleh partai PKI (baca: Peristiwa Madiun ).

Saya juga tekenang dengan sistem pemerintahan RI ketika itu. Sistem pemerintahan Parlementer yang penuh dinamikanya tapi juga membuat runyam. Parlemen kita mengalami beberapa kali pembubaran yang rata-rata hanya berumur satu tahun masa baktinya.

Parlemen kita di masa Orla, belum sempat menangani perekonomian dalam negeri, lalu sudah keburu jatuh alias bubar dan dibentuk parlemen yang lain.

Tahun 1950, juga muncul suatu istilah yang populer disebut “Gunting Syafruddin.” Sewaktu Syafruddin Prawiranegara menjadi Menteri Keuangan, dia mengeluarkan kebijaksanaan pengguntingan uang pecahan Rp. 5 ,- milik De Javasche Bank digunting menjadi 2 bagian.

Pada potongan uang sebelah kiri tetap digunakan sebagai alat bayar yang syah. Sedangkan uang potongan yang sebelah kanannya hanya bisa ditukarkan di bank dengan Obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula. Dan akan dibayarkan pada 40 tahun kemudian dengan bunga 3 persen pertahunnya.

Tahun 1959. Perekonomian Indonesia masih tidak menggembirakan. Usaha “Gunting Syafruddin’’ tidak banyak membantu. Akhirnya presiden Sukarno pada 25 Agustus melakukan pengetatan moneter dengan melakukan pemotongan uang (Sanering), yaitu dengan memangkas nilai riil mata uang RI. Mata uang pecahan Rp. 1000,- menjadi Rp.100 sedangkan Rp.500,- menjadi Rp.50,- Sekaligus juga pemerintah membekukan semua simpanan Giro & Deposito sebesar 90 persen dari simpanan yang lebih dari Rp. 25.000 dan digantikan dengan simpanan jangka panjang.

Tahun 1965, era Demokrasi Terpimpin.
Presiden Sukarno mencanangkan politik luar negeri bebas aktif dan Non Blok dijalankan oleh Presiden Sukarno yang selalu mengutamakan “proyek Mercu Suar”. Seperti Ganefo ( Games of the New Emerging Forces ).

Presiden pertama republik kita ini berupaya ingin menjadi pemimpin bangsa-bangsa Asia Afrika. Indonesia ternyata lebih dekat hubungannya dengan negara China dan Rusia, dan kurang bersahabat dengan negara-negara barat. Bahkan Indonesia pun memutuskan untuk keluar dari badan keuangan dunia IMF, Bank Dunia dan PBB. itu dilakukan hanya gara gara ingin mengagungkan semangat Berdikari. Berdiri Di atas Kaki Sendiri.

Maka pada 17 Agustus 1965, Indonesia menyatakan keluar dari keanggotaan PBB. Ditambah lagi dengan pembiayaan pembelian alat-alat perang dari Rusia dalam usaha pembebasan Irian Barat untuk dimasukkan kedalam wilayah NKRI. Akibatnya perekonomian RI kian menjerat leher kita.

Akhirnya, pada 13 Desember 1965, kebijakan pemotongan uang Rupiah kita terjadi lagi. Kali ini nggak main-maindeh. Rp. 1.000 (uang lama = ul ) dipenggal menjadi Rp. 1 ( uang baru = ub ). Demikian pula halnya dengan uang khusus yang berlaku di Irian Barat yang dikenal dengan istilah Uang Irian Barat ( IB Rp ).

Di Irian Barat juga mengikuti kebijaksanaan penetapan uang baru (ub) yakni IB Rp.1 000 (ul) menjadi Rp. 1 (ub) IB Rp. 1 menjadi Rp.1 (ub) .

Jadi dengan dikeluarkannya peraturan pengetatan kebijaksanaan moneter negara kita waktu itu, maka nilai tukar Uang Rupiah Irian Barat ternyata lebih tinggi nilai tukarnya dibandingkan nilai Rupiah itu sendiri. Yang kalau uang IB Rp. 1 ditukarkan dengan Rupiah maka akan terjadi perbandingan antara 18. 9 berbanding 1 ( atau dalam bahasa sehari-harinya menjadi IB Rp. 1 adalah sama dengan Rp. 18.90 ).

Untung saja nilai tukar IB Rp ini lalu disamakan dengan nilai tukar Rupiah. Coba kalau tidak disesuaikan, pasti orang akan beramai-ramai menyimpan Uang Irian Barat. Sehingga bisa membuat nilai uang Rupiah kian kedodoran.

Saya jadi teringat kejadian ini. Ketika itu ayahku memiliki sejumlah uang tabungan yang disimpan rapi di Bank Tabungan Pos (sekarang Bank Tabungan Negara ). Setelah adanya kejadian pemotongan uang ini, tabungan ayah hanya tinggal Rp.13 (ub). Uang tabungan yang sebesar Rp.13 ribu (ul) waktu itu USD 1 adalah hampir sebesar Rp.5 ribu … jadi uang tabungan ortuku bila dikonversikan kedalam US Dollar, hanya menjadi USD 2.60 ……..Aduuuh mak !

Sebagai ilustrasi saja, bahwa uang tabungan ortu saya yang sudah berubah menjadi uang baru sebesar Rp.13 tadi jika dibawa pergi belanja ke pasar tradisional pada waktu itu, hanya bisa dipakai untuk membeli 13 kilogram beras.

Redenominasi 
Mari kita lihat rencana pemerintah yang disebut Redenominasi. Maksudnya adalah suatu usaha pemerintah untuk memperbaiki keadaan perekonomian dengan jalan menghilangkan 3 (tiga) angka nol yang tertera pada mata uang Rupiah kita. Sekaligus secara bersamaan juga akan menurunkan harga-harga barang dan jasa (juga dihilangkan 3 angka Nol nya ). Sebagai contoh. Mata uang Rp.100 000 diredominasikan menjadi Rp.100; Rp.50 000 menjadi Rp.50 dan Rp.1 000, menjadi Rp. 1.

Dalam waktu yang bersamaan pula semua harga-harga barang maupun jasa pun diturunkan dengan membuang tiga angka 000 nya. Misalkan saja harga tiket pesawat dari Jakarta – Makassar pp Rp. 518 000 akan diturunkan menjadi Rp. 518; harga Cabe Keriting Rp. 38 000/ kg menjadi Rp. 38/kg ; harga tiket Kereta Senja Utama Jakarta – Jogja sebesar Rp.155 000 berubah menjadi Rp.155. Demikian seterusnya dengan harga-harga barang lainnya.

Apa sih manfaat Redenominasi ?
Dilihat dari perbedaan antara Sanering (pemotongan nilai uang ) di Indonesia pada tahun ’59 dan 65-an, kejadiannya tidak diikuti dengan tindakan penurunan harga barang/ jasa …. di sini terjadi akan lemahnya uang Rupiah kita.

Nah, rencana Redenominasi pemerintah kita kali ini akan mempertahankan kekuatan daya beli dari mata uang Rupiah itu sendiri.

Dalam redenominasi Rupiah dirancang agar uang kita lebih effisien dan nyaman dalam bertransaksi. Yang perlu diambil sebelum adanaya redenomisai ini ialah :
pemerintah perlu melakukan sosialisasi lebih jauh ke desa-desa di pedalaman agar tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat.

Nilai nominal Rupiah kita yang paling tinggi sekarang ini adalah uang pecahan Rp. 100 000. Sebenarnya urut-urutan di dunia adalah masih ada dalam peringkat ketiga setelah didahului oleh Vietnam dengan nilai nominal nya 500 000Dong. Sedangkan yang tingkat teratasnya diduduki oleh negara Zimbabwe yang mata uangnya tertera 10 000 000Zimbabwean Dollar ( kalau ini mah benar-benar OMG deh ! )

Kita lompati saja kisah Redenominasi negara Zimbabwe ini. Kalau Indonesia berencana menghapuskan 3 angka 000 nya, malah Zimbabwe ini pada tahun 2009 dulunya pernah menghilangkan 12 angka 000 000 000 000 dari mata uangnya ( pokoknya kalkulator mu nggak muat kalau dipakai buat menghitungnya).

Waduh, jadi gimana caranya menyebut uang Zimbabwe (yg ada pic nya dibawah ini ) mosok angka nol nya ajahsampai 14 angka.

sumber : en.wikipedia.org/wiki/Zimbabwean_dollar

Tidak sedikit negara-negara di Eropah, Asia maupun China pun sudah melakukan usaha perbaikan ekonominya dengan melakukan redenominasi mata uangnya.

Guys … sekali lagi ini baru saja ide dari pemerintah. Dan belumlah mendapat persetujuan oleh DPR RI. Jadi kita pasrah saja sama bapak-bapak wakil rakyat kita.

Pokoknya, kalau rakyatnya makmur, negara pasti menjadi kuat.

Terimakasih sudah membaca .

Salam.

Note : Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kolom Kita

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Teropong Negeri Emas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s