Partai Vs Rakyat

Dear Mas Dad, TE, Para Sesepuh KoKi, dan KoKiers diseluruh penjuru kolong langit.

Pemilihan Gubernur DKI bukan persaingan untuk menang ataupun kalah. “Siapapun yang jadi pemenang jadi tidak penting, yang penting rakyat Jakarta yang harus menang dan dimenangkan”.

Itulah kutipan pidato Jokowi sesaat setelah diumumkannya hasil quick count beberapa lembaga survei. Dari hasil perhitungan quick count tersebut pasangan Jokowi-Ahok memenangkan suara hampir di semua TPS kecuali Kepulauan Seribu yang mayoritas warganya lebih memilih pasangan Foke-Nara.

Satu hal yang patut disyukuri adalah bahwa pemilihan kepala daerah (pilkada) provinsi DKI telah memberikan gambaran indah tentang pelaksanaan pesta demokrasi yang baik tanpa kekerasan serta menjadi acuan bagi pelaksanaan pilkada di daerah lainnya di Indonesia.

Jalan panjang yang terjal
Sebenarnya isu tentang rencana pencalonan Jokowi sebagai gubernur DKI telah saya ketahui sejak akhir 2010 lalu dari salah seorang sahabat yang kebetulan dekat beliau, pencalonan tersebut semakin santer terdengar setelah beberapa prestasi yang beliau ukir di kota Solo dan harapan dari beberapa masyarakat Jakarta yang sudah jengah dengan pelbagai permasalahan ibu kota.

Sebelumnya di pilkada kota Solo, Jokowi telah membuktikan bahwa koalisi partai tidak mampu mengalahkan karakter tokoh yang memiliki integritas. Sosok santun dan apa adanya membuat Jokowi mampu menduduki posisi sebagai walikota Solo 2 kali berturut-turut, bahkan di pilkada 2010 Jokowi berhasil menang telak (memperoleh tidak kurang dari 85 persen suara yang sah) melawan calon lainnya yang masih keluarga keraton Solo serta diusung oleh partai penguasa dan koalisinya. Kebijakannya sebagai walikota Solo yang paling terkenal adalah ketika ia memindahkan pedagang kaki lima ke pasar baru tanpa kekerasan, bahkan dikemas dalam sebuah karnaval budaya yang menjadi objek wisata.

Sebagai seorang walikota, Jokowi pernah bersebrangan kebijakan dengan gubernur Jawa Tengah tentang pembangunan pusat perbelanjaan di kota Solo, dimana gubernur saat itu telah memberikan lampu hijau pembangunannya namun tidak disetujui oleh walikota. Sebagai seorang Rimbawan, Jokowi paham betul bahwa kota Solo lebih memerlukan ruang terbuka hijau dibandingkan pusat perbelanjaan yang akan mematikan pasar tradisional. Perseturuan tersebut bahkan berlanjut hingga ke kebijakan Jokowi yang mendukung pengembangan mobil ESEMKA namun ditentang oleh gubernur.

Di pilkada DKI Jokowi harus berhadapan dengan Fauzi Bowo (Foke) yang masih menjabat sebagai gubernur DKI, Foke dapat saja menyalahgunakan jabatannya untuk berkampanye melalui pelbagai kegiatan dinas Provinsi DKI seperti program Jamkesda, program Sekolah gratis, dan beberapa program lainnya.

Sudah menjadi hal yang lumrah terjadi disetiap kampanye pilkada terjadi saling serang jargon, slogan, program kerja, bahkan isu negatif. Ibarat menggunakan ilmu Tai chi yang menyerang lawan dengan menggunakan kekuatan lawan, Jokowi beserta tim suksesnya mampu membalikkan serangan politik tersebut menjadi sesuatu yang menguntungkan; sebut saja kasus isu sara yang dilontarkan Sang Raja Dangdut yang jelas-jelas mendukung pasangan Foke-Nara serta beberapa kasus lainnya.

Musibah terjadi pada tanggal 26 Juli 2012 (setelah pelaksanaan pilkada DKI putaran pertama), 2 gudang penyimpanan meubel milik Jokowi terbakar disaat Jokowi tengah melaksanakan umrah beserta keluarga. Atas terbakarnya 2 gudang berisi ratusan meubel siap eksport tersebut Jokowi tetap bersikap tenang. Dalam akun Facebook milik Jokowi tertulis, “Pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Yang terpenting adalah jangan sampai berhenti untuk melangkah. Kita jadikan musibah sebagai pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati dalam menata langkah”.

Wakil Rakyat atau wakil partai?


Di pilkada DKI putaran kedua terlihat jelas bahwa sesungguhnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik sudah menurun. Entah karena beberapa kasus korupsi yang melanda beberapa partai besar, atau kinerja buruk para wakil rakyat di senayan. dan lain sebagainya. Hal ini dibuktikani dengan kalahnya pasangan Foke-Nara yang didukung oleh beberapa partai besar seperti Partai Demokrat, Partai Golkar PPP, PAN, PKS, dan Hanura. Secara hitung-hitungan kasar semestinya pasangan Foke-Nara memenangkan putaran kedua karena didukung oleh banyak partai besar, namun kenyataannya suara partai bukanlah suara rakyat.

Seperti yang diketahui bersama bahwa Jokowi diusung oleh PDIP dan Ahok diusung oleh Gerindra, jika dihitung secara matematis maka seharusnya pasangan Jokowi-Ahok kalah dalam perolehan suara. Namun fakta yang terjadi justru memperlihatkan bahwa kemenangan pasangan Jokowi-Ahok bukanlah karena 2 partai pendukungnya, melainkan lebih karena karakter dan integritas pasangan tersebut yang telah dibuktikan sebelumnya melalui hasil kinerja di daerahnya masing-masing.

Masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jakarta sudah geram dengan karakter pemimpin yang banyak bicara namun sedikit berbuat, sudah jengah dalam menghadapi pelbagai permasalahan yang sama namun tak pernah terselesaikan (bahkan semakin parah setiap tahunnya). Masyarakat perlu sosok baru yang humanis (nguwongke), jujur, sederhana, dan mampu menjadi panutan. Itulah alasan terpilihnya pasangan Jokowi-Ahok sebagai pemenang dalam pilkada DKI putaran pertama dan kedua.

Salah seorang KoKier pernah berkata kepada saya, “Mas, hati-hati menjadi orang baik karena sering dimanfaatkan oleh orang lain”. Berdasarkan hal itu, kekhawatiran saya dengan terpilihnya Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI adalah berpotensi dijadikan sebagai ajang peningkatan popularitas partai pendukungnya dan kampanye awalan pilpres 2014. Ibarat mendapat angin segar, PDIP dan Gerindra naik pamor karena telah mengalahkan partai-partai besar pesaingnya, dan tentu saja hal ini menguntungkan para calon presiden atau para calon kepala daerah yang akan diusung oleh kedua partai tersebut nantinya, sebut saja nama Megawati atau Prabowo sebagai calon presiden serta Rieke Diah Pitaloka sebagai calon gubernur Jawa Barat.

Tentu kita semua berharap DKI Jakarta menjadi “Jakarta Baru” dalam masa kepemimpinan Jokowi-Ahok, namun kosistensi semangat perjuangan dan pemenuhan janji-janji kampanye harus tetap dijaga. Janganlah urusan partai lebih utama daripada urusan rakyat seperti yang dicontohkan oleh beberapa pejabat pemerintah dan para petinggi partai belakangan ini.

Saat ini masyarakat telah kehilangan sosok besar yang tulus berjuang, jujur, sederhana, tegas, dan tanpa pamrih. Janganlah lagi sosok Jokowi-Ahok kemudian berubah karena desakan partai politik, agar rakyat Indonesia pada umumnya kembali memiliki keyakinan bahwa bangsa Indonesia akan bangkit kembali menjadi bangsa besar yang dihormati dan sejajar dengan bangsa lain karena masyarakat dan pemimpinnya berhati mulia.

Kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak Basuki Tjahaja Purnama, kami tumpukan beban mengurus Jakarta dipundak mu, bekerjalah dengan hati dan beri kami bukti. Kami ingin kembali yakin bahwa masih ada orang-orang baik di negeri ini.

Windmill – Time goes wherever you are

Note : Tulisan ini telah tayang sebelumnya di Kolom Kita

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Keteladanan, Repost, Teropong Negeri Emas and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s