Mengejar Kemerdekaan

Seorang penulis dari Perancis kelahiran Aljazair yang juga seorang peraih nobel sastra bernama Albert Camus pernah berkata “Freedom is nothing but a chance to be better”.

Tak terasa bangsa Indonesia di Agustus tahun 2012 ini kembali memperingati hari kemerdekaannya yang ke-67, suasana peringatannya memang terasa sangat berbeda apabila dibandingkan dengan suasana peringatan 17-an yang dahulu pernah saya alami dimasa kecil. 

Dahulu, sebulan sebelum peringatan 17-an selalu diadakan pelbagai perlombaan yang sangat meriah di seluruh pelosok negeri. Hiruk pikuk kemeriahannya bahkan mampu menyatukan segala perbedaan dan keragaman masyarakat yang sangat heterogen di Indonesia. Tidak ada jurang kaya dan miskin, tidak ada kotak-kotak agama, dan tidak ada batasan suku maupun ras karena semua larut dalam khidmatnya nuansa kebangsaan. Lalu, kemeriahan tersebut ditutup dengan tetes air mata keharuan dalam upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di istana negara yang saya saksikan melalui televisi.

Kini, kemeriahan itu semakin surut seiring dengan bertambahnya usia bangsa ini dari kemerdekaannya. Semakin tua bangsa ini, sifat masyarakatnya semakin terlihat individualis, tamak, hedonis, dan kasar. Disadari atau tidak, perlahan tapi pasti bangsa ini semakin jauh dari kemerdekaannya.

Merdekalah…..
Sebuah pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya saat ini adalah masih pantaskah bangsa ini disebut bangsa yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (baca : subur, adil, makmur kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, adil, damai dan sejahtera)?.

Fakta yang banyak dijumpai sekarang adalah bangsa ini masih dijajah oleh investor asing yang mengeruk kekayaan alam Indonesia berupa hasil tambang dan hasil hutan, dijajah oleh raja-raja daerah berlebel pemimpin daerah melaluiAbuse of Power yang berkedok kebijakan otonomi daerah, dijajahah oleh oknum pemalas yang ingin cepat kaya dengan cara cepat, dijajah oleh budaya asing yang bertentangan dengan budaya Sapta Pesona bangsa (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tamah, dan Kenangan).

Ibarat karang yang dihempas ombak, bangsa ini terus didera oleh pelbagai masalah sosial, ekonomi, dan budaya yang tak kunjung surut. Masalah demi masalah datang dan pergi silih berganti mengisi Headline media masa. Bangsa ini keluar dari mulut harimau lalu masuk ke mulut buaya akibat dari ulah manusia-manusianya yang tak lagi peduli pada kepentingan bangsa dan negara.

Beberapa dari kita mungkin masih ingat tentang fenomena pendidikan P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) yang dahulu dipergunakan sebagai sarana pembentukan karakter masyarakat untuk menjadi manusia yang pancasilais. Ketika pendidikan tersebut dipaksakan menjadi kurikulum pendidikan di bangku sekolah, maka yang terjadi kemudian adalah tidak pernah ada perubahan yang signifikan pada karakter manusia Indonesia. Malah program ini menjadi sebuah proyek untuk mengeruk uang rakyat untuk memperkaya penyelenggaranya.

Pendidikan P4 yang dinilai kurang berhasil kemudian perlahan tapi pasti menghilang dari permukaan, dan hingga saat ini belum ada lagi pola pendidikan karakter yang tepat bagi masyarakat Indonesia. Seperti kehilangan jati dirinya, masyarakat Indonesia kehilangan identitasnya karena tekanan dan pemaksaan beberapa faham ideologi. Akankah hal ini terus dibiarkan hingga bangsa ini berakhir tinggal nama tanpa wujud?

Indikasi realistis yang paling sederhana untuk menentukan kadar kadar keterjajahan bangsa Indonesia akibat dari kebobrokan moral masayakatnya adalah dengan memperhatikan fenomena yang berlaku di tengah masyarakat itu sendiri. Mari kita ambil contoh dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  1. Seberapa mudah anda mengurus administrasi di lingkungan pemerintah (baik pusat maupun daerah)?
  2. Seberapa banyak biaya siluman yang harus anda keluarkan untuk berbisnis dan mengurus perijinan?
  3. Seberapa sering berita korupsi dan kriminalitas muncul dalam media masa?
  4. Seberapa tegas hukum ditegakkan?
  5. Seberapa-pentingkah menjadi pemimpin di pelbagai lini di bangsa ini dan seberapa besar biaya politik untuk mencapainya?
  6. Seberapa banyak tokoh bangsa yang masih hidup dan benar-benar menjadi seorang negarawan?
  7. Seberapa besar kemampuan masyarakat untuk lebih bertoleransi pada perbedaan? Dan lain sebagainya.

Tidak cukup puluhan tahun untuk dapat mendewasakan suatu bangsa, namun fenomena yang terjadi di bangsa Indonesia adalah proses pendewasaannya berjalan mundur. Hal ini didasarkan pada perbandingan kondisi berbangsa dan bermasyarakat yang terjadi pada masa sekarang berbanding dengan tahun 1945 (awal kemerdekaan Indonesia).

Bangsa ini dimerdekakan oleh para founding father yang memiliki latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda namun kepentingan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka lebih dikedepankan sehingga mampu mengaburkan egoisme pribadi dan golongan.

Bagi saya, masyarakat Indonesia hingga kini masih belum merdeka untuk mengekspresikan rasa malu dalam perspektif positif. Semakin tua umur kemerdekaan bangsa Indonesia, masyarakatnya semakin tidak malu untuk korupsi, semakin tidak malu melanggar peraturan, semakin tidak malu menyakiti sesama, dan semakin tidak malu dihadapan Tuhannya.

Belajar merdeka
Peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-66 di tahun 2011 dan yang ke-67 di tahun 2012 adalah sebuah keberkahan. Bagaimana tidak, peringatan 17 Agustus tersebut terjadi ditengah bulan ramadhan sama seperti momentum kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang juga bertepatan dengan bulan ramadhan. Momentum ini sangat jarang terjadi karena penanggalan kemerdekaan Indonesia mempergunakan perhitungan perputaran matahari (Masehi), sedangkan penanggalan bulan ramadhan mempergunakan perhitungan perputaran bulan (Qomariyah).

Dengan bertepatannya peringatan 17 Agustus dan bulan ramadhan di tahun 2011 dan 2012 seakan-akan menjadi sebuah peringatan penting bagi masyarakat Indonesia untuk berintrospeksi dan menahan diri agar bangsa ini kembali kepada semangat awal pendiriannya yang mengharapkan keberkahan dari Tuhan. Semangat ramadhan yang penuh keberkahan sudah semestinya dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk kembali belajar saling peduli, berbagi, menahan diri, dan berintrospeksi.

Pada prinsipnya, puasa adalah pendidikan karakter manusia agar terbebas dari pelbagai sifat buruk dengan menahan diri dan lebih banyak berintrospeksi diri. Dengan berpuasa individu manusia menjadi individu yang merdeka, maka merdekalah masyarakat Indonesia untuk mewujudkan Indonesia emas yaitu Indonesia yang diisi oleh para manusia yang berhati emas.

“I am free, no matter what rules surround me. If find them tolerable, I tolerate them; if I find them too obnoxious, I break them. I am free because I know that I alone am morally responsible for everything I do.” – Robert A. Heinlein

Windmill – Time goes wherever you are

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Berbagi, Repost, Teropong Negeri Emas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s