KEMBALI KE KARAKTER INDONESIA

“We pay little heed to our native spiritual resources and our own intellectual heritage; instead, we think first of importing foreign principles and methods, or borrowing customs and laws from across the deserts and beyond the seas… we turn our eyes to Europe, America, or Russia, and we expect to import from there solutions to our problems.”

Itulah kutipan dari Sayyid Qutb; seorang penulis, pengajar, dan pemimpin Persaudaraan Muslim Mesir (tahun 1950-1960an) yang dikemudian hari menjadi inspirator bagi pelbagai gerakan Islam garis keras di seluruh dunia.

Tuhan sudah menggariskan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan, itu artinya disetiap semua permasalahan dalam kehidupan, mulai dari berbangsa hingga ke lingkup pribadi sekalipun selalu saja ada jawaban dan solusinya. Termasuk dalam kehidupan berbangsa di Indonesia yang selalu diterpa oleh masalah dan musibah bertubi-tubi, mulai dari krisis moneter tahun 1997 hingga kasus Nazaruddin di tahun 2011, sebenarnya dapat terselesaikan oleh solusi yang mengikuti masalah itu sendiri. Solusi itu tak lain adalah moralitas manusia Indonesia yang membudaya dan mengakar menjadi karakter bangsa Indonesia.

Budaya Yang Menjadi Karakter

Menurut Wikipedia budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Kata tersebut diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal manusia. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa budaya adalah suatu pola hidup manusia secara menyeluruh karena budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.

Unsur-unsur budaya ini tersebar dan meliputi banyak sekali kegiatan sosial manusia. Maka jika ditarik kesimpulan, dapat dikatakan bahwa aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif manusia dalam suatu lingkup budayanya masing-masing, dan budaya yang dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu serta diajarkan secara turun temurun akan menjadi sebuah karakter.

Dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa lain, tidak tertutup kemungkinan bahwa arus budaya Eropa, barat, dan beberapa negara asia maju dapat masuk ke Indonesia secara deras melalui pelbagai kanal media cetak maupun elektronik. Hal ini kemudian mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya yang, mau tidak mau, harus terjadi di Indonesia. Tak jarang memang, proses akulturasi budaya tersebut kemudian mereduksi kebudayaan lokal bangsa Indonesia yang beraneka ragam beserta seluruh nilai-nilainya.

Pesatnya perkembangan teknologi saat ini seperti menghilangkan hambatan jarak dan waktu bagi pertukaran informasi antarbangsa. Namun, kemampuan masing-masing bangsa dalam menfiltrasi informasi masih tergantung pada regulasi yang ditetapkan oleh bangsa itu sendiri. Sementara, kualitas regulasi itu terbentuk oleh kualitas moralitas manusianya. Maka, sejauh manakah bangsa Indonesia mempertahan kebudayaannya dari derasnya hantaman budaya asing?

Jika dahulu kerja keras, santun, ramah, tolong-menolong, gotong royong, musyawarah, dan pelbagai sifat “ketimuran” lainnya merupakan budaya dan karakter bangsa Indonesia; maka apakah saat ini sifat itu dapat terlihat disaat bermunculannya kasus negatif di sektor politik, ekonomi, dan pemerintahan Indonesia? Bukankah yang dipertontonkan kepada masyarakat adalah perpecahan, caci maki, kekerasan dan ketamakan yang kemudian menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat pada kinerja pemerintah.

Manakala kita teropong lebih dalam, karakter bangsa Indonesia sepertinya sudah berevolusi mundur menjadi karakter bangsa barbar ditengah perkembangan budaya manusia dunia yang semakin membaik.

Mencari Jejak Sila Pertama Pancasila

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato di depan BPUPKI menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia. Kemudian, dari pidato beliau yang diterima secara aklamasi oleh BPUPKI tersebut dibentuklah Panitia Sembilan yang bertugas merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pada pidato yang diucapkan Bung Karno. Dari kelima sila yang ada maka ditempatkanlah sebagai sila pertama dalam Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Maha ESA”. Hal ini menunjukkan bahwa Negara Republik Indonesia diletakan pertama kali pada pondasi yang paling penting yaitu pondasi Ketuhanan.

Pada dasarnya, semua masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ber-Tuhan. Artinya, semua masyarakat Indonesia mengakui keberadaan Tuhan dan menjalankan seluruh aspek kehidupannya berdasarkan pada ajaran agama yang diakui oleh pemerintah. Namun disaat hampir semua tokoh dan pemimpin negara menggalakkan pemberantasan korupsi beserta seluruh turunannya, masyarakat Indonesia harus menerima kenyataan pahit karena disuguhi berbagai potret ketamakan manusia Indonesia. Yaitu melalui penyelewengan dana APBD dan APBN, kasus suap beberapa tender mega proyek, penyelewengan pajak oleh aparatur pemerintah, penghamburan dana negara oleh DPR berdalih kunjungan kerja dan rencana pembangunan gedung baru, serta beberapa permainan politik untuk mencapai kekuasaan yang ternyata juga menggunakan uang negara.

Ketua Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (“KPK” Malaysia), Dato Sri Abu Kassem Mohammed mengatakan dalam acara Forum Group Discussion (FGD) Antisuap BUMN di Menara 165 Jakarta, Rabu (15/6). “Yang paling penting sekarang ini adalah pendekatan spiritual. Suap-menyuap sebagai bentuk dari korupsi bukanlah hal sepele yang mudah diselesaikan. Tidak gampang menolak godaan tersebut jika bukan atas dasar keyakinan terhadap Tuhan”.

Arogansi dan ketamakan beberapa tokoh yang juga menyeret beberapa nama petinggi pemerintah lainnya melalui praktek korupsi dan suap menyuap. Kondisi ini menunjukkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi menjadi pondasi bagi bangunan negara Republik Indonesia. Karakter masyarakat Indonesia yang dicerminkan oleh perilaku para tokohnya menunjukkan tidak hanya pada masyarakat Indonesia bahkan pada masyarakat dunia, betapa buruknya karakter manusia Indonesia.

Sistem Hukum Vs. Sistem Moral

Mari kita me-review pada peristiwa bencana Tsunami Indonesia (2004), Badai Katrina di Amerika (2005), dan Tsunami di Jepang (2011). Ketiga bencana tersebut masing-masing membawa dampak yang sangat buruk bagi perekonomian dan kehidupan sosial bermasyarakat di daerah bencana. Mereka kehilangan keluarga, kelaparan, dan kedinginan karena kehilangan tempat tinggal.

Apa yang terjadi pasca bencana? Ternyata, masyarakat ketiga tempat tersebut memberikan respon berbeda satu sama lain. Bencana tsunami Aceh dan Nias saat itu menjadi bencana nasional, beberapa bulan televisi nasional melukiskan penderitaan masyarakat Aceh melalui tayangan menyayat hati, penanganan bencana yang terhitung lambat dibarengi oleh beberapa penyelewengan bantuan berupa uang dan bahan makanan oleh segelintir orang dan lembaga.

Di Amerika terjadi pencurian, perampokan, dan pemerkosaan. Bahkan, untuk menanggulangi dampak sosial yang lebih besar lagi, Pemerintah Federal Amerika Serikat akhirnya mengerahkan 25.000 prajurit dan para veteran dari Irak untuk menjaga keamanan di New Orleans dan sekitarnya.

Berikutnya, pascatsunami di Miyagi Jepang. Sama sekali tidak ada “lagu Ebiet G Ade” yang menggambarkan pedihnya penderitaan, tidak ada berita pencurian, dan perampokan. Mereka tetap antri untuk mendapatkan makanan dan bahan bakar, bahkan beberapa toko bahan makanan menurunkan harga agar lebih terjangkau, dan tidak ada aksi spekulasi ambil untung dalam kesempitan.

Di Amerika dan Jepang hukum sama-sama ditegakkan dengan sangat tegasnya. Namun disaat bencana, penerapan hukum dan perundang-undangan sulit dilakukan. Disaat sistem hukum tak mampu lagi melindungi masyarakat maka saat itulah sistem moral mengambil alih.

Sistem moral sesungguhnya dapat diterapkan pada semua bangsa, kalangan/lapisan masyarakat karena sifatnya yang universal, namun untuk memberlakukannya memang diperlukan waktu yang sangat lama karena waktu pembentukan sistem moral berbanding lurus dengan pembentukan karakter manusianya.

Bangsa yang mengedepankan nilai moral sebagai karakter bangsanya akan selalu mampu mengatasi berbagai masalah kebangsaaan karena sangsi moral secara otomatis berjalan tanpa perlu menunggu berlakunya sangsi hukum. Contoh, pejabat di Jepang akan langsung mengundurkan diri setelah ketahuan melakukan kesalahan atau perbuatan yang tercela tanpa harus menunggu proses hukum berjalan atau menunggu ditetapkan menjadi tersangka.

Kemunduran Pendidikan Karakter

Masih ingat kasus Ibu Siami yang diusir dari kampung karena melaporkan contek masal di sekolah anaknya saat ujian kelulusan? Kasus ini sedikit memberikan gambaran bahwa ada yang salah dengan pendidikan nilai-nilai di Indonesia. Tatanan nilai Indonesia sudah terbalik. Seorang anak dikatakan berhasil jika ia memiliki nilai ujian bagus tanpa perlu melihat bagaimana prosesnya, maka segala upaya pun dilakukan termasuk mencontek.

Jika sedari kecil sudah diajarkan mencotek maka disaat besar dan menjadi pemimpin adalah hal yang lumrah untuk melakukan korupsi agar menjadi orang kaya (karena standar orang sukses di Indonesia adalah orang yang memiliki banyak uang).

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya tapi miskin; tanahnya subur tapi bahan makanan masih import, kandungan minyak bumi melimpah tapi harganya semakin tak terjangkau oleh masyarakat, dan manusianya cerdas tapi tidak bisa berbuat banyak untuk kebangkitan bangsa. Karakter manusia Indonesia pun saat ini berubah menjadi manusia hedonis, mengaku sebagai bangsa yang agamis namun anarkis, mengaku spiritualis tapi egois, dan akhirnya masyarakatnya pun semakin apatis.

Pancasila disusun oleh para pendiri bangsa sebagai pondasi bangsa yang diambil dari sari pati budaya Indonesia yang beraneka ragam dan diyakini mampu mengakomodir semua keinginan masyarakat Indonesia. Marilah kita kembali ke karakter bangsa Indonesia, karakter yang ditumbuhkan dari nilai-nilai luhur Pancasila.

Terinspirasi oleh semangat juang Mamak Z dalam mengembangkan citizen journalism Indonesia.

WindmillTime goes wherever you are

Catatan : Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kolom Kita

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Berbagi, Repost, Suara Alumni ESQ, Teropong Negeri Emas. Bookmark the permalink.

3 Responses to KEMBALI KE KARAKTER INDONESIA

  1. kenthirwati says:

    saya amat sangat setuju dgn kalimat ini : Tuhan sudah menggariskan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan *jempols

  2. Produk ESQ says:

    Pembangunan karakter, kunci kejayaan bangsa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s