BERTAHAN HIDUP DALAM BENANG KUSUT

Setelah mengikuti training ESQ kelas Eksekutif, salah seorang bapak yang juga menjadi peserta training datang menghapiriku dan berkata “jika saja para wakil rakyat di DPR itu ikut training ini maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan disegani oleh negara lain” ucapnya sembari meneteskan air mata. “Asal tahu saja, saya sudah habiskan 2 milyar rupiah untuk menjadi anggota dewan dan ternyata masih juga gagal. Kalau saja uang itu saya pergunakan untuk mengikutkan orang training ESQ…” lanjutnya.Itulah penggalan percakapanku dengan salah seorang bakal calon anggota DPR-RI yang gagal meraih kursi di parlemen. Aku kemudian berpikir, jika 2 milyar rupiah masih belum mampu mengangkat orang untuk meraih kursi maka berapa rupiahkah yang harus dirogoh oleh seorang bakal calon untuk dapat meraih kursi di parlemen?

Memutus Lingkaran Setan

Sudah jadi rahasia umum jika kehidupan para penggiat politik dan hukum tidak jauh dari perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar, maka tak jarang jika mereka selalu bergelimangan dengan uang dan dikelilingi oleh berbagai aset bernominal besar. Apakah haram atau halal? mungkin hanya Tuhan saja yang tahu, karena mungkin mereka pun sudah kehilangan kemampuan untuk memilahnya berdasarkan hati nurani.

Ada pepatah mengatakan “Politicians are like diapers.  They both need changing regularly and for the same reason”. Dari periode satu ke periode berikutnya selalu ada pergantian politisi dari berbagai partai politik yang memiliki beragam azas dan basis masa, namun apakah kemudian ada perubahan signifikan dari waktu ke waktu? bukankah kemudian yang terjadi adalah satu per satu skandal pun terkuak ke permukaan.

Berikut adalah alur sederhana bagaimana uang terus berputar dalam dunia politik :

Keterangan : Warna Merah menunjukkan kemungkinan besar ada perputaran uang didalamnya

 Ibarat judi “Hom Pim Pa”, jika seseorang gagal dalam perolehan suara maka ia kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar, dan tak sedikit orang yang kemudian menjadi stress dan mendadak gila pasca pemilu. Namun, jika seseorang berhasil menduduki kursi di parlemen maka itulah masa dimana mereka harus mengembalikan semua modal yang telah mereka keluarkan selama proses pencalonan. Lantas  dengan apa mereka memperoleh uang dalam jumlah besar untuk mengembalikan modal dan jika perlu mengambil keuntungan? maka dimasa jabatannya mereka membuat berbagai macam proyek yang kental dengan praktik suap, membuat berbagai macam mata anggaran fiktif, serta membuat berbagai macam produk hukum dan undang-undang yang dapat menguntungkan pribadi dan partai politik.

Mampukah para manusia idealis yang dahulu selalu mengusung nilai-nilai moral itu memutuskan rantai lingkaran setan? Dahulu ada beberapa tokoh reformasi yang menyuarakan perbaikan bangsa antara lain, Budiman Sujatmiko yang namanya menjadi terkenal setelah mendirikan Partai Rakyat Demokratik di era Orde Baru dan saat ini duduk di Komisi II DPR RI, Amin Rais yang dilambungkan namanya oleh keruntuhan Orde Baru dan menjadi ketua MPR RI, dan banyak lagi para reformis lainnya yang kemudian menjadi pemimpin di bangsa ini, namun hampir semuanya dapat dikatakan kesulitan untuk memutus lingkaran setan karena telah lingkaran itu telah menjadi budaya bahkan kredo yang tak tertulis dan mau tidak mau mereka pun terhanyut didalamnya.

Politics = Poly “many” + Tics “blood-sucking parasites”

Sir Winston Leonard Spencer Churchill, seorang tokoh politik dan pengarang dari Inggris yang juga dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya sewaktu Perang Dunia Kedua pernah berkata : “Politics are almost as exciting as war, and quite as dangerous.  In war you can only be killed once, but in politics many times”.

Saling serang dan menjatuhkan rival dalam perpolitikan belakangan ini santer termuat di berbagai media cetak maupun elektronik dalam dan luar negeri. Tak tanggung-tanggung, beberapa tokoh tinggi partai dan petinggi pemerintah disebutkan terlibat dalam berbagai skandal seperti penyuapan, penipuan, korupsi, hingga ke berbagai kasus yang sangat pribadi sifatnya.

Di Indonesia, peperangan politik juga menimpa tubuh Partai Demokrat (PD), sebuah partai besar yang menguasai kursi terbanyak di parlemen serta menjadi pemimpin di pemerintahan. Kasus Nazaruddin dalam suap Kemenpora untuk pembangunan Wisma Atlet telah menyeret beberapa nama besar petinggi parpol berlambang bintang dengan warna bendera biru itu, bahkan beberapa petinggi parpol lainnya yang duduk di DPR RI juga disebut-sebut turut serta menerima aliran dananya. Setelah ditetapkan menjadi tersangka, Nazaruddin beserta seluruh keluarga besarnya kemudian menghilang dengan meninggalkan misteri konspirasi besar bangsa Indonesia dan menimbulkan kemurkaan dari beberapa tokoh PD, bahkan Presiden SBY yang juga merupakan pendiri dan Ketua Dewan Pembina PD mengerahkan jajarannya untuk memulangkan Nazaruddin dengan dibantu oleh Interpol di 188 negara.

Entah bagaimana akhir dari episode Nazaruddin ini dipanggung politik Indonesia, apakah akan berakhir menjadi tumbal dalam pusaran kepentingan hukum dan politik seperti Munir (akfifis HAM yang tewas diracun diluar negeri), Nasrudin Zulkarnaen (Direktur Putra Rajawali Banjaran yang tewas dengan luka tembak)atau Zainal Abidin (Bendahara Umum PD sebelumnya yang meninggal secara mendadak akibat serangan jantung).

Dunia politik adalah dunia yang rumit dan penuh dengan tipu daya, ada pepatah mengatakan “Tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang ada adalah kepentingan yang abadi”. Selama kepentingan itu bukan untuk kebaikan dengan dilandaskan pada hati nurani dan nilai-nilai luhur, maka tidak akan ada ketenangan dan kedamaian di bangsa ini karena elit politik saling menjatuhkan dan rakyatnya saling tawuran.  Partai politik semestinya membawa misi untuk mensejahterakan dan memberi keamanan pada rakyatnya, namun jika dijadikan kendaraan untuk memperkaya diri dan golongannya maka bangsa ini tetap menjadi bangsa primitif ditengah kemajuan bangsa-bangsa lain di dunia.

Bangunlah dari tidur bangsa Indonesia, dan berontaklah dari penindasan segelintir manusianya egois dan hedonis.

WindmillTime goes wherever you are

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Repost, Teropong Negeri Emas, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s