MUDAH BICARA SULIT BERBUAT

Pada Pemilihan Umum 2009 yang lalu beberapa  orang mendadak terkenal di kalangan masyarakat. Berbagai iklan dalam bentuk spanduk, baliho, hingga flyer tertempel di tembok atau pepohonan pinggir jalan. Dari manusia yang berstatus biasa-biasa (bahkan namanya tidak pernah terdengar) mendadak jadi tokoh masyarakat yang mewakili suatu daerah dalam perolehan suara (walau yang bersangkutan tidak berdomisili di daerah tersebut).Fenomena ini adalah perulangan dari pemilu satu ke pemilu berikutnya. Tidak jarang korban sakit jiwa bertaburan bak jamur yang tumbuh dimusim hujan akibat dari tidak kuatnya mental para calon legislatif yang telah mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar (atau karena menggunakan uang pinjaman).

Janji-janji perbaikan harkat hidup ditabur,ikrar sumpah bekerja untuk rakyat diubar, dan berbagai program kerja diucapkan dengan suara lantang diiringi percikan ludah yang terlontar ke arah para kader partai. Semangat terus digenjot dibawah terik matahari, peluh tak lagi jadi penghalang untuk menggalang dukungan masa dan menyatukan kebersamaan sesaat para kader partai. Berkoar-koar atas nama Tuhan, agama, bangsa Indonesia, dan kebangkitan wong cilik jadi bumbu penting yang tak boleh terlupa dalam setiap script orasi ditiap kampanye.

Biarlah masa akar rumput bentrok sesama kader partai atau melawan partai lain untuk membuktikan loyalitas kader pada para petingginya; bahkan jika perlu berkorbanlah dengan waktu, tenaga, fikiran, bahkan nyawa sekalipun dibawah panji-panji warna-warni sebagai bukti kesetiaan.

Setelah berdoa khusuk siang malam diiring perasaan harap-harap cemas akhirnya mereka berhasil menduduki kursi panas tertinggi sebagai wakil umat dengan sebutan “Wakil Rakyat Yang terhormat”. Lantas apakah kemudian semua menjadi lebih baik? ternyata janji, sumpah, dan berbagai program kerja terlupa karena terlalu sibuk untuk mengembalikan modal dan setoran bulanan.

Bagaimana dengan nasib rakyat yang telah berkorban dengan sepenuh jiwa dan raga diatas sebuah janji perbaikan harkat hidup? mereka tak lebih hanya sebuah tumbal yang harus dikorbankan untuk menggapai sebuah gengsi pribadi berdalih nilai-nilai kemuliaan bersama. Jasa para pemberi suara pun menguap tak bersisa tanpa jejak dan hilang bersama gulir waktu yang tak bisa terulang.

Hari demi hari masyarakat terus disuguhi oleh berbagai berita kontroversi dan konspirasi tanpa henti, belum lagi kesulitan hidup di dunia nyata yang sungguh tak mudah namun terpaksa harus dijalani dengan “ikhlas”. Masyarakat kini sudah kehilangan kepercayaannya pada para pemimpin karena sudah tidak ada lagi panutan untuk ditiru, tak ada lagi tempat untuk bernaung, dan tak ada lagi sosok amanah yang dapat dipercaya.

Pemimpin lebih mengutamakan pencitraan diri dan menyelamatkan aset keluarga dibandingkan berkorban untuk kepentingan agama dan bangsa. Tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk berlindung ditengah kesulitan karena ternyata sifat kejam itu dapat merasuk ke setiap individu manusia bahkan seorang pemimpin sekalipun. Jika para penentu kebijakan sudah tidak mampu memberikan solusi bagi masyarakat, lantas harus kemana masyarakat meminta pertolongan?

Manusia tetaplah manusia, siapapun ia. Dengan cita-cita yang tinggi sekalipun untuk kemuliaan umat manusia ia tetaplah manusia yang dikaruniai keterbatasan, maka sangatlah masuk akal manakala disaat terdesak ia akan berbuat banyak hal yang mungkin kurang terhormat. Maka sangatlah salah jika ada manusia yang terlalu menggagungkan manusia lain (kecuali nabi) karena ia tak lebih dari seorang manusia tempatnya salah dan dosa.

Mungkin pemimpin lupa bahwa ia hanyalah sekumpulan daging dibalut kulit yang terlahir dari setetes air yang hina, yang hidup berjalan di muka bumi dengan membawa kotoran yang siap dibuang setiap harinya, lalu mati membusuk menjadi tulang belulang.

Untuk mengingatkan para pemimpin, maka bersuaralah terus dengan lantang atas nama nilai-nilai mulia yang diturunkan Tuhan, karena bicara itu lebih mudah daripada mengerjakannya (itulah yang saya lakukan saat ini).

WindmillTime goes wherever you are

Note : Artikel ini ditayangkan sebelumnya di esq-news.com

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to MUDAH BICARA SULIT BERBUAT

  1. eLKa says:

    Artikelnya sangat inspiratif..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s