SAMURAI CHARACTER BUILDING PART II

Di dalam buku berjudul ”The Book of Five Rings”, Miyamoto Musashi mengatakan bahwa ilmu tertinggi dari ilmu pedangnya adalah nothingness (ketiadaan).

Kepiawaian seorang seorang samurai dalam memainkan pedang memang tidak diragukan lagi, apalagi mereka senantisa mengasah kemampuannya dari waktu ke waktu guna melindungi tuannya dan diri sendiri dalam setiap pertempuran. Namun, setelah melakukan latihan pedang selama bertahun-tahun justru para samurai mulai menyadari bahwa ternyata kemampuan fisik kerap membatasi kekuatan dan tekniknya, dan sebaliknya mereka sadar bahwa hati seorang manusia adalah sumber kekuatan nyata yang tak berbatas.

Hati memiliki jangkauan yang tak terhingga karena ia mampu terhubung langsung dengan alam semesta. Meskipun keberadaan manusia merupakan kombinasi antara fisik dan spiritual, namun mereka berkeyakinan bahwa kelak jiwa akan tetap hidup meskipun fisik telah hancur.

Spiritual Samurai
Dalam catatan sejarah samurai, pertempuran Kawanakajima merupakan salah satu pertempuran samurai terbesar yang pernah terjadi, pertempuran ini melibatkan pasukan Takeda (Takeda Shingen) dan pasukan Nagao (Uesugi Kenshin) dan pertempuran ini terjadi sebanyak 5 kali (tahun 1553, tahun 1555, tahun 1557, tahun 1561, dan tahun 1564). Keduanya, baik Takeda Shingen maupun Uesugi Kenshin sangat dikenal sebagai samurai besar serta satu sama lain menjadi rival berat dalam rencana pengembangan wilayah kekuasaannya masing-masing, namun hal menarik yang menjadi catatan tersendiri dalam sejarah pertempuran Kawanakajima adalah terjadinya pertempuran ini sama sekali tidak mengganggu perdagangan antara kedua pihak bertikai. Sejarawan Rai Sanyō menyatakan bahwa Uesugi Kenshin pernah mengirimkan garam ke wilayah musuh besarnya (Takeda Shingen) yang sedang mengalami kelangkaan garam.

Ditengah masa pertempuran Kawanakajima, Takeda Shingen wafat di usia 53 tahun akibat dari kesehatannya yang terus memburuk. Uesugi Kenshin yang mendengar kabar kematian itu begitu terkejut, bahkan sumpit yang sedang dipegangnya sampai terjatuh kala itu, kemudian ia berkata sambil menangis tersedu-sedu “Laki-laki hebat telah meninggal (tidak akan ada penggantinya)“. Seketika itu para pengikut Uesugi Kenshin mengajukan usul untuk mengambil kesempatan ini guna menyerbu ke wilayah Takeda, tapi usulan tersebut langsung ditolak dengan sangat tegas oleh Uesugi Kenshin dengan berkata bahwa perbuatan seperti itu adalah tindakan kekanak-kanakan.

Kedua pihak, baik Takeda Shingen maupun Uesugi Kenshin memaknai pertempuran sebagai sesuatu yang sakral. Bagi mereka musuh harus dihormati, karena hal tersebut merupakan cerminan dari pernghormatan terhadap diri sendiri. Menurut kode etik samurai, baik pihak yang menang ataupun yang kalah, keduanya harus memperlakukan musuh dengan tidak merendahkan harga diri. Oleh karena itu dalam peperangan, mereka dipagari oleh ajaran etika samurai yang ketat seperti tidak menyerang dari belakang, saling menghormati harga diri, dan melakukannya hingga tuntas (karena mereka berkeyakinan bahwa pertempuran merupakan suratan takdir). Ketatnya aturan dalam peperangan ini mengisyaratkan makna bahwa sesungguhnya pertempuran adalah pilihan terakhir yang akan ditempuh manakala tidak ada jalan sepakat diantara kedua belah pihak.

“Jika Anda memenangkan ratusan perang, itu bukanlah suatu kebanggaan. Jika Anda menang tanpa harus berperang, itulah kebanggaan yang sesungguhnya.” -Shingen Harunobu Takeda-

Transformasi Samurai
Jaman terus bergulir, masa kejayaan kaum samurai dengan senjata tradisionalnya semakin tersingkir oleh kemajuan jaman dan teknologi, dimasa restorasi Meiji fungsi kaum samurai digantikan oleh tentara bersenjatakan senapan api. Pada masa itu teknologi dan budaya barat pun mulai berakulturasi dengan budaya kearifan lokal Jepang.

Meiji Ishin atau yang dikenal juga dengan Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, pembaruan ini membawa dampak perubahan yang sangat besar dalam perubahan struktur politik dan sosial Jepang. Dalam restorasi Jepang, Meiji mengusung sebuah konsep yang sangat apik yaitu penggabungan antara Eastern ethics and Western science, secara tersirat konsep ini mensinergikan kemajuan berfikir manusia yang tetap mengakar pada moral dan budaya bangsa. Hal ini tercermin dalam salah satu ucapan Kaisar Meiji (Prince Mutsuhito) yang sangat terkenal, “I dreamed of a unified Japan. A country strong, independent, and modern… Now we have Railroads, Cannon, and Western clothing. But we cannot forget who we are, or where we come from

Walaupun budaya barat beserta seluruh kemajuan ilmu pengetahuannya terus masuk berakulturasi dengan budaya Jepang, namun semangat dan budaya samurai sama sekali tidak luntur atau tergerus oleh kemajuan peradaban karena tetap dijaga oleh pemerintah Jepang serta diajarkan secara turun temurun, sehingga ajaran Bushido saat ini telah menjadi karakter seluruh masyarakat Jepang. Lantas bagaimana dengan teknik samurai dalam memainkan pedang? Seni dalam menggunakan pedang (Battodo) pun tetap dijaga oleh pemerintah, bahkan kelak ilmu ini sangat bermanfaat pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Battodo
Di periode antara dua Perang Dunia, Akademi Militer Toyama (Rikugun Toyama Gakko) mengembangkan sebuah sistem ilmu pedang untuk pertarungan jarak dekat yang sering dijumpai pada medan perang modern. Tujuannya adalah untuk mencari kemudahan serta menggali teknik yang lebih efektif dan efisien, penekanan Batodo ini lebih diarahkan pada latihan uji cutting (tameshigiri). Aliran baru dari ilmu pedang Akademi Toyama ini kemudian dinamakan Gunto no Soho (setelah PD II menjadi Toyama Ryu).

Setelah tahun 1945, muncul tiga turunan interpretasi dari Toyama Ryu yang asli yaitu Nakamura-ha, Morinaga-ha, dan Yamaguchi-ha. Nakamura Taizaburo sensei adalah pendiri Nakamura-ha, ia menambahkan kata ke-8 (Itto Ryodan) dan memperkenalkan beberapa perubahan teknis pada kata lain dari Toyama Ryu versi pra PD II. Pada 1977, ia mendirikan Zen Nippon Toyama Ryu Iaido Renmei, dan setelah masa perang ia mendirikan Federasi Battodo Internasional yang bertujuan untuk mengembangkan Nakamura Ryu yang saat ini telah menyebar ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, United Kingdom, Serbia, Australia, Austria, dan Indonesia.

Untuk Indonesia sendiri, Nakamura Ryu mulai masuk sekitar tahun 2009 melalui Bansai Dojo (Battodo Nakamura Ryu Samurai Indonesia) yang lebih menekankan pembangunan karakter dengan menggabungkan antara seni pedang, nilai moral Bushido, dan peningkatan ESQ (Emotional and Spiritual Quotient).

Unshakable Morality
Seperti yang kita ketahui bersama gempa di laut Jepang berskala 8,9 skala ritcher yang disertai tsunami telah meluluh lantakan Miyagi dan sekitarnya, tak hanya itu akibat dari gempa juga mengakibatkan terbakarnya kilang minyak di Ichinara serta meledaknya reaktor pembangkit listrik tenaga nukir. Ribuan orang meninggal dunia dan jutaan lainnya kini terlunta-lunta. Mereka bertahan hidup tanpa rumah, kekurangan air bersih, serta kekurangan pangan dan obat-obatan.

Ada yang menarik dibalik bencana yang terjadi di Jepang ini, ternyata di tengah himpitan musibah itu tidak adanya sama sekali berita penjarahan atau pencurian. Berbeda dengan bencana di sejumlah negara, seperti pasca gempa dahsyat di Haiti dan Cile, pasca banjir besar di Inggris 2007, dan pasca badai Katrina di Amerika Serikat. Di empat negara ini, warganya menjarah bahan pangan untuk bertahan hidup.

Begitu kokohnya moralitas masyarakat Jepang bahkan di tengah bencana, bisa jadi ini merupakan budaya Jepang yang sudah tertanam begitu dalam di alam bawah sadar mereka. Ada nilai-nilai yang tetap dijalani dan dipertahankan dalam kondisi apapun.

Saya masih mengingat bagaimana para korban bencana tsunami di Aceh dan Minahasa yang seharusnya menerima bantuan bahan makanan dan obat-obatan, namun karena sebagian diselewengkan oleh segelintir orang maka beberapa bantuan tersebut tidak sampai ke para korban bencana (kasus Farid Faqih, 2005), belum lagi isu korupsi yang terjadi di tubuh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias (BRR), inilah sekelumit kejadian di bangsa sendiri yang menunjukkan bahwa masih ada saja pihak yang mengambil keuntungan ditengah penderitaan saudaranya.

Suatu ketika sahabat saya bercerita pasca kunjungannya ke Jepang, ia bertanya kepada salah satu orang Jepang tentang budaya berlalu-lintas. Ia bertanya mengapa tidak ada orang yang melanggar lalu lintas di Jepang, sehingga terlihat tertib dan teratur sekali?. Orang Jepang itu berkata, “Jika saya melanggar saya yang akan rugi sendiri; jika terjadi kecelakaan maka pihak asuransi tidak akan membayar klaim karena itu adalah kesalahan saya, belum lagi hukum masyarakat yang mengucilkan saya karena perbuatan saya yang tercela”.

Akhir kata sebagai penutup artikel ini, saya ingin menguktip ucapan Mahatma Gandhi “You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.”

Windmill Time goes wherever you are

Sumber :
ESQ Basic Training
http://bansai-dojo.com/home/
http://id.wikipedia.org/wiki/Restorasi_Meiji
http://id.wikipedia.org/wiki/Uesugi_Kenshin
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/16/169799-mengapa-di-jepang-tidak-terjadi-penjarahan-makanan
http://www.tempointeraktif.com/hg/topik/masalah/701/

Note : Artikel ini telah dimuat sebelumnya di Kolom Kita

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Berbagi, Keteladanan, Repost, Teropong Negeri Emas and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to SAMURAI CHARACTER BUILDING PART II

  1. kenthirwati says:

    suka ma Unshakable Morality-nya, soalnya sy punya pengalaman tak terlupakan dgn urusan moral ini.

    pas banjir gede, semua orang ngungsi pergi. sy msh skul dan numpang di rumah sodara, bukannya diungsiin, sy disuruh jaga rumah. gada listrik, gada air, susah makanan. dah kondisi susah, msh aja ada yg memanfaatkan. komplek gelap gulita, penjarah berkeliaran. sy tiap malam ga bs tidur, ketakutan. sampe tidur bawa senjata di samping sy.

    malah curhat😀
    tulisannya mantaps!

  2. windmill says:

    Makasih buat curhatnya mbak… masalah moral itu memang bentukan yang perlu proses dan ngga bisa instant, tp bukan hal yg ngga mungkin untuk diwujudkan di Indonesia. Semua ada masanya, karena semua dipergilirkan.

  3. Pingback: Karakter Samurai « SCHOOL SUPERVISOR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s