Terbenam Bersama Mentari

Jingga warna langit Mu,
kala ku terpaku di keheningan,
hembusan angin lembut menyapu segala penat dan peluh di keningku

Sekali…
Dua kali kuhembuskan nafas panjang untuk tenangkan hati,
mungkin tak cukup menghapus kenangan yang lalu

Kutatap di ujung sana perahu kecil yang berlayar entah kemana,
entah membawa apa,
atau mungkinkah mencari mimpi yang tertunda di seberang sana

Mentari semakin redup di balik awan,
samar-samar cahayanya menyembul menyinari langit

Kuyakinkan hati saatnya telah tiba,
kegelapan akan menyelimutiku,
saat itu sang pujangga telah kehabisan kata untuk berpuisi

Untuk mimpi aku pegang hidupku,
untuk harapan kulamunkan malamku,
kebenaran di penghujung waktu…
akankah teguh keyakinanku

Kuharap dapat kulayari kelak ribuan bulan,
meski tak tahu kemana arah tujuku

Oooh kuingin terbenam bersama mentari, tidur,
mengusap air mata….
bersamaMu…

(Inspired by Sleeping Sun-Nightwish)

Windmill Time goes wherever you are

Note : Puisi ini telah tayang sebelumnya di esq-news.com

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Puisi and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Terbenam Bersama Mentari

  1. windmill says:

    Kala sang surya mulai tenggelam, itulah saat dimana kita merenung…. bahwa tak selamanya hidup bercahaya.

  2. puisinya bagus, bisa dicopy gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s