WARNING, INDONESIA DARURAT SDM

 

Pada suatu waktu, aku bertanya pada kakak iparku “Mbak, apa mau selamanya tinggal di Belanda? walaupun udah kuliah dan kerja disana, apa ngga kepengin balik buat tinggal dan kerja di Indonesia?”. Ia hanya menjawab “Orang pinter ngga kepake di Indonesia, yang kepake itu orang yang bisa ngehasilin duit”. Itulah sepenggal percakapanku dengannya beberapa tahun yang lalu. Kakak iparku sudah 6 tahun tinggal di Belanda, saat ini ia telah menikah dengan orang Belanda dan bekerja untuk PBB.

Terkadang sedih juga jika mengingat hal itu, dimana banyak sekali anak-anak bangsa yang cerdas dan memiliki daya saing tinggi di dunia namun belum turut berkontribusi pada bangsa dan negaranya. Dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, memang bukan hal mudah untuk mempertahankan idealisme kebangsaan, terlebih lagi mereka harus menerima kenyataan pahit untuk tidak dihargai sebagai orang pintar/berprestasi di bangsa sendiri.

Sejenak saya langsung teringat pada kejadian dahulu yaitu peristiwa pembacaan laporan pertanggungjawaban Presiden Habibie yang ditolak dalam Sidang Paripurna MPR 1999. Bukan karena penolakannya yang saya ingin saya garis bawahi disini, namun bagaimana perlakuan para anggota parlemen yang ada disana dimana hampir seluruhnya menertawakan dan mencemooh laporan pertanggungjawaban tersebut, saat itu saya sama sekali tidak melihat kesantunan dan penghormatan para anggota parlemen pada Pak Habibie. Semua orang tahu siapa beliau, tak hanya di Indonesia bahkan dunia pun mengenal baik sosok seorang Habibie. Di industri penerbangan sendiri, beliau telah menyumbang sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti Habibie Factor, Habibie Theorem, dan Habibie Method.

Yang Kurang Dihargai
Harus diakui bahwa ada beberapa orang yang berprestasi dibidangnya masing-masing bahkan sangat dihormati dan disegani oleh bangsa lain karena kemampuannya, namun seakan-akan tidak berharga sama sekali ketika ia berada di bangsa sendiri, beberapa contoh berikut mungkin mampu memberikan sedikit gambaran akan figur pahlawan yang jasanya sangat besar terhadap bangsa dan negara namun harus menelan pahitnya perlakuan bangsa Indonesia.

1. Tan Joe Hok (Hendra Kartanegara)

Ia adalah seorang atlet badminton yang menjadi juara All England (1959), orang Indonesia pertama yang meraih medali emas di Asian Games (1962), Juara US Open (1959), juara Canada Open (1960), dan beberapa penghargaan lainnya.

Pengorbanannya yang luar biasa yaitu saat ia mengembalikan uang beasiswa sebesar US$ 1.000 dari Presiden Soekarno (1961) sebagai imbalan atas prestasinya dalam mempertahankan piala Thomas, kemudian ia mengembalikan uang tersebut karena keprihatinannya pada kondisi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat itu. Tak cukup sampai disitu, ia pun harus merelakan pendidikan S2 yang tidak lulus di Baylor University Jurusan Premedical Major in Chemistry and Biology (yang didapatkannya melalui beasiswa) karena harus membela timnas Indonesia pada Piala Thomas di Tokyo (1964).

Pada masa orde baru, dimana saat itu diskrimasi pada etnis Cina sangat besar, ia dipaksa untuk mengganti nama. Ternyata tak sesederhana pergantian nama, perlakuan terhadap Tan Joe Hok dan kawan- kawannya ternyata ”dibedakan” bahkan untuk sekedar mengurus KTP dan paspor, mereka harus menunjukkan bukti Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SBKRI) meski nyata-nyata bertahun-tahun mereka telah berjuang untuk negeri ini.

2. Ellyas Pical

Ia adalah juara dunia tinju versi International Boxing Federation (IBF) dan telah mengharumkan bangsa Indonesia dikancah olahraga tinju dunia. Pria asal Saparua Maluku, yang sempat mencicipi manisnya gelar juara dunia kelas bantam junior versi IBF ini, di hari tuanya justru berurusan dengan hukum dan ia sempat mendekam di penjara karena kasus narkoba.

Menurut penuturan sang istri Rina Siahaya, seusai suaminya menggantungkan sarung tinju, kehidupan keluarganya memang sangat pas-pasan. Setelah mengharumkan nama bangsa, Elly (sapaan Ellyas Pical) justru kesulitan mendapatkan pekerjaan. Itulah sebabnya, suaminya menerima ajakan temannya untuk bekerja di sebuah klub malam di Jakarta. Tak dinyana ajakan tersebut justru menjeratnya ke dalam masalah hukum. Padahal, Elly tak pernah sekalipun berurusan dengan narkoba.

3. John Lie (Daniel Yahya Dharma)

Saya sangat yakin tidak banyak masyarakat Indonesia yang familiar dengan nama ini. Ia adalah Purnawirawan TNI Angkatan Laut yang menjadi orang keturunan Tionghoa pertama yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional di Indonesia. Kisah patriotisme dan perjuangan John Lie bersama kapalnya “The Outlaw” memang telah menjadi legenda tersendiri di dalam dan luar negeri.

Semua berbaur menjadi satu antara kejeniusan, keuletan, dan ketabahan John Lie berikut ABK-nya dengan sebuah keberuntungan dan pertolongan Tuhan. Ironisnya, setelah semua perjuangan dan pengorbanannya, John Lie terkesan seperti belum diterima menjadi bagian dari negeri ini. Kisah kepahlawannya tidak ditemukan sama sekali dalam beragam buku sejarah Indonesia. Namun, John Lie merupakan pribadi yang rendah hati, karena tak pernah mempersoalkan dirinya yang dilupakan oleh para penulis buku sejarah nasional negeri ini.

4. Teuku Markam

Boleh jadi saya dan anda (pembaca) adalah orang yang kesekian kalinya tercengang saat mengetahui fakta bahwa dari 38 Kg emas yang berada dipuncak Monas, 28 kg di antaranya adalah sumbangan Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.

Karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, dan Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lainnya adalah mengimpor plat baja, besi beton, sampai senjata untuk militer.

Kenyataan pahit yang kemudian terjadi adalah ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat dengan organisasi PKI dan harta kekayaannya kemudian disita oleh pemerintah. Sekeluarnya dari penjara,Teuku Markam mencoba bangkit dengan membangun kembali usahanya, namun di tengah usahanya pada tahun 1985 ia meninggal dunia.

Setelah aktivitas bisnisnya ditekan habis-habisan, semua ahli warisnya hidup terlunta-lunta bahkan sampai ada yang menderita depresi mental. Setelah kekuasaan Orde Baru berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitasi. Saat ini ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.

“Pembajakan” SDM
Seiring dengan terus berkembangnya jaman dan kemajuan ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia telah banyak menghasilkan anak-anak bangsa yang mampu bersaing dengan masyarakat dunia lainnya. Banyak sekali anak-anak bangsa yang mampu menyelesaikan studi di luar negeri melalui program beasiswa (yang kebanyakan bukan dari pemerintah Indonesia) kemudian mereka bekerja dan menetap di luar negeri dengan berbagai alasan.

Singapura adalah salah satu negara yang banyak menyediakan beasiswa, dan policy yang berlaku disana mengharuskan setiap penerima beasiswa yang telah menyelesaikan studinya menjalani ikatan dinas selama 3 tahun. Kondisi negara Singapura yang aman, nyaman, serta teratur (berbeda dengan Indonesia) menyebabkan para peraih beasiswa enggan kembali ke Indonesia. Bahkan di beberapa negara eropa sangat membuka diri bagi para lulusannya untuk bekerja disana. Disadari atau tidak, secara tidak langsung hal ini menyiratkan bahwa telah terjadi “pembajakan” atas aset-aset SDM Indonesia berkualitas.

Andreas Rahaso, yang saat ini menjadi salah satu direktur di salah satu perusahaan konsultan di Singapura (dimana Obama pernah menjadi kliennya) lebih memilih untuk bekerja dan menetap di disana, padahal sebelumnya ia adalah Dekan di salah satu perguruan tingggi swasta di Jakarta. Kondisinya yang tidak dihargai oleh bangsa sendiri membuatnya lebih memilih “mengangkat koper” dan memboyong keluarganya ke Singapura.

Masih Ada Asa Tersisa
Tidak semua putra-putri bangsa yang berkualitas memilih hengkang meninggalkan Indonesia, masih banyak juga mereka yang memiliki idealisme kebangsaan tinggi, saya sendiri mengenal salah satu diantaranya. Saya menyapa beliau dengan sapaan “Om JC”, ia dahulunya bekerja di U.S. Embassy dibagian Agriculture (dengan gaji expat), karena kepentingan politik Amerika atas Indonesia ia diminta untuk membuat laporan palsu yang intinya adalah menyatakan bahwa perkembangan pertanian Indonesia sangat buruk sekali (padahal fakta dilapangan berkebalikan). Setelah tekanan bathin dan rasa nasionalismenya yang tinggi maka ia lebih memilih untuk keluar.

Sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa pasti tidak akan lupa akan kejadian Mei 1998, namun ketika ia dihubungi oleh oleh salah satu televisi asing terkait kejadian itu, ia melaksanakan pesan ayahnya “Selama kau masih warga Indonesia tak perlu bicara jelek mengenai negerimu ke pihak asing”.

Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk memperbaiki kondisi hidupnya, kembali lagi kepada pemerintah untuk menjaga dan mempertahankan aset SDM-nya guna meningkatkan pembangunan. Saat perdagangan terbuka terjadi dan akses antar bangsa semakin dipermudah, maka bangsa dengan kualitas SDM tinggilah yang akan menjadi pemenang.

Windmill Time goes wherever you are

Sumber :
http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/t/tan-joe-hok/index.shtml
http://berita.liputan6.com/sosbud/200609/128877/class=’vidico’
http://sejarahqu.wordpress.com/2008/11/16/the-black-speed-boat/
http://aceh.tribunnews.com/news/view/1391/emas-monas-teuku-markam-dan-penjara
http://media.kompasiana.com/new-media/2010/08/22/demi-citizen-journalisme-dan-nasionalisme/

Note : Artikel ini telah ditayangkan sebelumnya di esq-news.com

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Berbagi, Keteladanan, Repost, Teropong Negeri Emas and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s