Damai Kami Sepanjang Hari

 

Ilustrasi

Saya termenung sejenak setelah membaca quote seorang sahabat bernama Mas Iwan Kamah yang berkata “Waktu saya pertama kali kuliah di kampus baru UI Depok 1987, terkejut karena lukisan Van Gogh berjudul Sunflower dilelang seharga sama dengan biaya total pembangunan kampus UI seluas 310 ha. Padahal lukisan itu luasnya cm 0.6 m persegi. Menghargai lukisan karena kita menghargai pelukisnya. Menghargai manusia, sama dengan menghargai penciptanya, Tuhan. Menghina, memukul bahkan membunuh… ya pikir sendiri.”

Masih hangat dalam telinga kita akan kejadian Minggu (6/2/2011) sekitar pukul 10.00 WIB dimana massa berjumlah ratusan orang menyerang lokasi Ahmadiyah di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Akibat dari penyerangan itu dikabarkan telah menewaskan 3 orang dan melukai 6 orang lainnya dari pengikut Ahmadiyah. Dua hari kemudian,Selasa (8/2/2011) terjadi kerusuhan di Temanggung yang dipicu oleh ketidakpuasan massa atas tuntutan 5 tahun penjara kepada terdakwa penistaan agama Antonius Richmond Bawengan yang mengakibatkan kerusakan beberapa kendaraan bermotor, fasilitas umum, dan beberapa rumah ibadah.

Dua kejadian ini hanya sebagian kecil kejadian yang menghiasi album pertikaian dan perselisihan sepanjang berjalannya roda pemerintahan Indonesia sejak kemerdekaannya di tahun 1945. Rangkaian kejadian yang terkadang membuat malu sendiri masyarakat Indonesia baik di dalam negeri apalagi yang ada di luar negeri,kondisi semacam ini seakan-akan menyiratkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bar-bar yang belum mengenal peradaban karena segala permasalahan dan perbedaan selalu diselesaikan dengan jalan kekerasan.

Dua Sisi Mata Uang
“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia……” Mengutip lirik lagu nasional berjudul “Dari Sabang sampai Merauke” buah karya R. Soerardjo ini mengingatkan saya betapa Indonesia ini memiliki wilayah yang sangat luas, dan karena masing-masing wilayah terpisahkan oleh perairan maka jadilah Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki beragam potensi alam, adat istiadat/budaya, bahkan keyakinan. Ibarat dua sisi mata uang, segala perbedaan yang ada di Indonesia (apapun itu) dapat menjadi potensi kekayaan maupun potensi perpecahan/perselisihan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa segala bentuk perbedaan akan selalu ada, namun kearifan dalam menyikapinya masih sangat kurang sehingga tidak jarang menimbulkan pertikaian dan perselisihan yang berakhir dengan penderitaan dan kesengsaraan di salah satu pihak. Sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi asas demokrasi Pancasila, dimana pasal 1 berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, Bangsa Indonesia masih terkesankan sebagai bangsa yang tak ber-Tuhan karena kekerasan merajalela dan tidak dapat tidak dapat terselesaikan dengan baik secara hukum. Sudah semestinya bahwa asas musyawarah harus dikedepankan, karena dengan musyawarah segala bentuk emosi dan ego pribadi/kelompok akan dapat ditekan.

Paham Salah, Salah Faham
Berbicara mengenai “Paham” (concept/credo) beragama, setidaknya ada 6 keyakinan agama yang saat ini banyak dianut oleh masyarakat Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah melarang pemeluk Konghucu melaksanakan peribadatannya secara terbuka. Kemudian melalui Keppres No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut.

Semua orang faham (mengerti) bahwa pemahaman seseorang akan suatu “paham” adalah harga mati (yang akan dibela hingga mati), suatu hak asasi yang paling asasi dari semua manusia, dan tak seorang pun boleh mengganggu/menyelewengkan/merusak paham tersebut . Ibarat duri dalam daging, Ahmadiyah mengganggap sebagai bagian dari salah satu paham keagamaan di Indonesia yaitu agama Islam. Konsep ajaran Ahmadiyah sendiri tidak sama dengan ajaran Islam yang benar (diakui oleh seluruh ulama Islam di seluruh dunia, oleh karenanya MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah berada diluar Islam karena sesat dan menyesatkan.

Fatwa Sesat Ahmadiyah oleh MUI dikeluarkan pertama kali pada keputusan Musyawarah Nasional (MUNAS) II tahun 1980 kemudian dipertegas kembali pada MUNAS VII tanggal 26-29 Juli 2005. Pasca reformasi dimana organisasi massa (ormas) Islam mulai menunjukkan perkembangan yang luar biasa, desakan terhadap pemerintah untuk mengeluarkan larangan terhadap penyebarluasan paham Ahmadiyah dalam format undang-undang semakin gencar, kemudian desakan tersebut dikabulkan dengan dikeluarkannya SKB 3 Menteri (Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung) pada Juni 2008. Putusan dari 4 lembaga tersebut semakin men”syah”kan bahwa paham Ahmadiyah adalah paham yang sesat dan menyesatkan serta dilarang di Indonesia. Pemerintah dan lembaga keagamaan Islam menyarankan kepada para pengikut Ahmadiyah untuk kembali pada ajaran Islam yang benar dan dijanjikan akan dilindungi keselamatannya (dalam haknya sebagai warga negara Indonesia). Sekedar informasi bahwa penolakan terhadap paham Ahmadiyah ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi pula disejumlah negara seperti, Malaysia, Brunei, Saudi Arabia dan Pakistan.

Selama ini baik MUI maupun pemerintah hanya melarang ajaran Ahmadiyah untuk dilaksanakan apalagi disebarluaskan di Indonesia, namun kenyataan dilapangan umat Islam diluar Ahmadiyah menafsirkannya sebagai seruan untuk menyerang para pengikut Ahmadiyah beserta segala infrastruktur mereka. “Kesalah-fahaman” penafsiran atas fatwa MUI dan SKB 3 Menteri mengakibatkan terjadinya konflik berdarah di tengah masyarakat, dampak yang diakibatkan pun ternyata meluas ke berbagai sektor seperti pertahanan dan keamanan, ekonomi, dan lain sebagainya yang kesemuanya negatif bagi kelangsungan roda pemerintahan Indonesia.

Guna mencegah pertumpahan darah yang lebih banyak lagi maka MUI dan para ulama lain memberikan 2 opsi kepada Ahmadiyah dan pemerintah; pertama, para pengikut Ahmadiyah kembali ke ajaran Islam yang benar; dan kedua, Ahmadiyah dijadikan sebagai agama baru diluar Islam dan akan hidup berdampingan dengan prinsip “lakum dinukum waliadin”.

Damai Kami Sepanjang Hari
Islam adalah rahmat bagi seluruh alam maka seyogyanya fungsi musyawarah dan dialog kekeluargaan lebih dikedepankan dalam memberikan pemahaman akan Islam yang benar kepada seluruh pihak yang belum memahami. Seperti meluruskan tulang iga yang bengkok, tidak dapat dilakukan dengan paksa (jalan kekerasan) karena akan mematahkan tulang iga tersebut, hal ini sesuai dengan ayat berikut “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Penciptaan iklim yang kondusif di tengah masyarakat harus dibina oleh seluruh lapisan baik pemerintah, ulama, pengusaha, maupun masyarakat. Kepentingan bangsa dan negara harus lebih diutamakan dari pada daripada emosi sesaat dan kepentingan pribadi/golongan. Mengutip lirik lagu Iwan Fals “Semoga tak kan pernah berhenti, canda hari,canda pagi, Damai Kami Sepanjang Hari”.

WindmillTime goes wherever you are

Sumber :
http://www.tribunnews.com/2011/02/07/kronologi-penyerangan-di-cikeusik-versi-ahmadiyah

Note : Artikel ini pernah tayang sebelumnya di esq-news.com

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Berbagi, Repost, Teropong Negeri Emas and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s