Dicari Pemimpin Berjiwa Besar

Senin malam, 17 Januari, “mungkin” akan menjadi waktu yang akan dikenang dalam hidup SBY. Bagaimana bisa tidak terlupakan, ditengah masa kepemimpinannya ia mendapatkan “sentilan” dari tokoh lintas agama yang menganggap bahwa pemerintahan SBY telah melakukan kebohongan publik.

Tokoh lintas agama dirasa cukup representative, karena mewakili semua agama yang ada di Indonesia. Di sana ada Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia Mgr D Sitomorang, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Andreas Yewangoe, Ketua Perwakilan Umat Budha Indonesia Siti Hartati Murdaya, Ketua Parisada Hindu Dharma I Made Gde Erata, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Wawan Wiratama, Sekjen Matakin Sugeng Sentosa, Presidium Matakin Budi Tanu Wibowo, Ketua MUI Ichwan Syam, Plt Ketum Pimpinan Pusat Persis Irfan Syafrudin, Bikhu Sri Mahathera Pannyyavaro, dan Frans Magnis Suseno.

Para tokoh lintas agama tersebut kemudian membentuk gerakan menolak kebohongan Presiden SBY. Ada sembilan kebohongan yang beberapa poin diantaranya adalah pengurangan angka kemiskinan, pengangguran, jaminan keamanan nasional, dan perlindungan kebebasan beragama. Kesemua hal tersebut tidak terlepas dari janji politik SBY semasa kampanye dan pelaporan kinerja 100 hari pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

Sebelumnya, santer sekali terdengar isu pemakzulan (impeachment) terhadap SBY dan Kabinetnya oleh beberapa partai oposisi. Kemudian pemerintah dan beberapa partai koalisi yang berkuasa berasumsi bahwa tokoh lintas agama tersebut telah disisipi oleh muatan politik. Beberapa hal yang mungkin dijadikan landasan mengapa persepsi itu muncul adalah karena dalam tubuh tokoh lintas agama tersebut dahulu ada yang pernah mencalonkan diri sebagai cawapres, ada pula yang sempat digadang-gadang akan maju pada pilpres 2009, dsb. Oleh karenanya, dari pihak pemerintah maupun partai yang mendominasi parlemen (pendukung pemerintah) sangat gencar sekali melakukan pembelaan diri atas kinerja pemerintah atau melakukan proses pencitraan diri.

Terlepas dari ada atau tidaknya agenda politik yang disisipkan dalam tubuh tokoh lintas agama, pertemuan antara SBY dan tokoh lintas agama ini lebih merupakan pertemuan dari hati ke hati. Di mana, para tokoh agama ingin memberikan kritik/teguran/masukan bagi pemerintahan SBY demi kebaikan bangsa dan negara Indonesia (karena semua masyarakat Indonesia beragama). Hal inilah yang seharusnya dapat disikapi dengan bijak oleh pemerintah. Bukankah tegaknya bangsa Indonesia ini karena disokong oleh empat pilar yaitu ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kedermawanan orang kaya, dan doanya orang-orang miskin.

Tidak dipungkiri bahwa pemilu berikutnya, tahun 2014, harus dipersiapkan dari sekarang. Termasuk dalam hal ini adalah citra pemerintah yang sedang berkuasa. Namun bukankah mendengar dan menampung kritik/masukan lebih bijaksana ketimbang berkilah dan mencari pembenaran diri. Ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa “Semua yang baik itu akan tetap menjadi baik, dan kebusukan walau ditutupi-tutupi akan tetap tercium baunya”.

Dan sangat disayangkan pula bahwa penggunaan kata “BOHONG” oleh tokoh lintas agama (yang suaranya sangat didengar masyarakat) ini ternyata kemudian menimbulkan polemik berkepanjangan di masyarakat. Peluang para pihak oposisi pun seperti dilancarkan dengan keadaan ini. Bukankah pemuka agama seharusnya mampu memberikan kesejukan pada masyarakat Indonesia ditengah kondisi seperti sekarang ini?

Sepertinya, ini adalah dampak yang mungkin tidak pernah diduga akan terjadi sebelumnya. Inilah fakta yang menunjukkan bahwa para pemimpin bangsa ini (baik pemerintah maupun tokoh agama) sama-sama tidak berjiwa besar. Karena nasehat-menasehati dalam hal kebaikan seharusnya dilakukan dengan cara yang baik.

Berjiwa Besar Dalam Kesantunan Berekspresi
Dalam menyampaikan aspirasi dan keinginan dengan cara santun tanpa kekerasan, sebagian orang akan teringat pada sosok Mahatma Gandhi. Tokoh bernama lengkap Mohandas Karamchand Gandhi ini dilahirkan di Porbandar, Gujarat, India, pada 2 Oktober 1869. Ia salah seorang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, serta mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.

Dengan prinsip hidupnya yaitu Satyagraha (jalan yang benar), ia telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Sebagai seorang praktisi ahimsa, Gandhi bersumpah untuk berbicara kebenaran dan menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Dia hidup sederhana di sebuah komunitas perumahan mandiri dan mengenakan dhoti tradisional India dan selendang benang tenun yang ia putar dengan tangannya sendiri. Gandhi adalah seorang vegetarian dan selalu berpuasa sebagai cara untuk pemurnian diri atau sebagai protes sosial.

Kesederhanaan dan keteguhannya akan nilai-nilai kebaikan memang tidak diragukan lagi. Ia bukan sosok yang memiliki kepentingan dalam setiap perjuangannya selain demi kebaikan bangsa dan masyarakat India. Namun, tidak semua orang setuju dengan semua jalan hidup yang ia pilih. Ia pun harus terbunuh dengan tiga luka tembak di dada. Namum satu hal yang pasti bahwa semua masyarakat dunia setuju jika Mahatma Gandhi layak mendapatkan tempat di hati.

Berjiwa Besar Untuk Mengakui Kesalahan
Saya jadi teringat artikelnya Ryu & Yuka-chan no mama yang berjudul “Sikap Ksatria Dari Toyota”. Dikisahkan, tercatat lebih dari 1,09 juta mobil Toyota di Amerika Serikat dan Eropa terkena recall (pemanggilan kembali) akibat dari adanya masalah pada pedal gas.

Kemudian CEO Toyota, Toyoda Akio secara “ksatria” datang ke negeri Paman Sam untuk bersaksi dan menjawab pertanyaan dari anggota parlemen AS. Dengan tegas ia menyatakan penyesalannya yang mendalam dengan mengatakan “deeply sorry”. Ia tidak lari dari tanggung jawab atau berkilah dan berdalih atas kesalahan dan kegagalannya.

Berjiwa Besar untuk Memaafkan
Siapa yang tidak kenal dengan sosok Nelson Mandela. Pria kelahiran Mvezo, 18 Juli 1918, dengan nama lengkap Nelson Rolihlahla Mandela ini dikenal sebagai sosok yang bersahaja. Sejarah mencatatnya sebagai pejuang kemerdekaan melalui kegiatan antiapartheid-nya (terlepas dari kontroversi mantan istrinya Winnie Madikizela).

Menurut Wikipedia, karena kegiatannya yang antiapartheid, ia menjalani berbagai masa hukuman. Pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap dan dipenjarakan di Johannesburg Fort. Kemudian, pada 25 Oktober 1962, ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. Pada 12 Juni 1964, ia dan sekelompok aktivis lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Setelah menolak pembebasan bersyarat dengan menghentikan perjuangan bersenjata pada Februari 1985, Mandela tinggal di penjara sampai dibebaskan pada 11 Februari 1990. Presiden Frederik Willem de Klerk memberikan perintah pembebasannya setelah ditekan oleh seluruh dunia.

Bebasnya Nelson Mandela seperti menggambarkan bahwa ia telah memenangkan pertarungan politiknya melawan rejim apartheid. Kemudian, ia terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan pada Mei 1994 melalui sebuah pemilu yang adil. Namun, ia sama sekali tidak menaruh dendam pada rejim apartheid dan para tokohnya termasuk pada Frederik Willem de Klerk yang dahulu berulang kali telah menjebloskannya ke dalam penjara. Nelson Mandela mampu merangkul Frederik Willem de Klerk dengan menjadikannya Deputi Presiden. Maka layaklah jika Nelson Mandela mendapatkan Nobel Perdamaian dari PBB pada tahun 1993.

Berjiwa Besar dalam Menerima Perbedaan
Untuk hal ini, saya selalu akan teringat pada dua sosok yang banyak menginspirasi hidup saya. Mereka adalahfounding father bangsa Indonesia yang namanya selalu harum sepanjang masa.

Kedua tokoh yang lebih dikenal dengan sebutan Dwitunggal ini tidak selalu sefaham dalam cara perjuangan ataupun dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun, seruncing apapun konflik tersebut, ternyata tidak memunculkan bentuk-bentuk perilaku politik yang cenderung anarki di antara keduanya. Mereka selalu menunjukkan persatuan dan kekompakan dalam hubungan sosial maupun kekeluargaan. Hal ini yang ditunjukkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta hingga akhir hayat mereka.

Perselisihan mereka bermula pada tahun 1929 karena adanya perbedaan faham tentang asas perjuangan dalam mencapai kemerdekaan. Menurut Bung Hatta, yang harus didahulukan bukannya mengobarkan semangat rakyat tetapi mendidik kader-kader yang selanjutnya kader tersebut akan mendidik rakyat sehingga rakyat tahu akan hak dan harga dirinya.

Sedangkan bagi Bung Karno, yang penting bukan partai tetapi gerakan rakyat. Baginya, politik adalahmachtsvorming dan machtsaanwending (pembentukan kekuatan dan penggunaan kekuatan). “Mendidik rakyat supaya cerdas akan memerlukan waktu bertahun-tahun, jalan yang akan ditempuh Hatta baru akan tercapai kalau hari sudah kiamat,” katanya.

Pada tahun 1950, hubungan antara keduanya mulai merenggang. Pengaruh Hatta berangsur-angsur surut sedangkan kekuasaan Soekarno bertambah besar. Dengan Manifesto Politik 1959, Soekarno kembali memegang tampuk pemerintahan dengan kekuasaan tak terbatas.

Hatta memberikan penilaian: “Bagi saya yang sudah lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien, ada baiknya diberikan fair chance kepada Presiden Soekarno untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu sukses atau suatu kegagalan. Maka jadilah tanggal 1 Desember 1956, Hatta secara resmi mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Masih banyak contoh hal-hal “Berjiwa Besar” yang sangat saya idamkan dari para pemimpin bangsa ini, namun sekiranya ini dulu yang ada dihati. Bagi saya pribadi, memilih untuk menjadi “Golput” dalam dua kali pemilu ini adalah sebuah keputusan pribadi yang paling asasi bagi setiap manusia (termasuk saya). Saya lebih baik menjadi penonton yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk sembari memperbaiki budaya saya dan keluarga kecil saya, guna mempersiapkan generasi kedepan yang mampu menjadi pemimpin sejati bagi Indonesia.

Kita semua tahu bahwa bangsa Indonesia pernah sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia karena para pemimpinnya lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan kelompok, golongan, apalagi dirinya sendiri. Menjadi pemimpin adalah amanah yang sangat berat disertai tanggung jawab yang besar. Namun saat ini, mereka berlomba dan saling menjatuhkan hanya untuk meraih kursi kekuasaan atau sekedar memperlebar lahan pengumpulan harta.

Namun keyakinan akan bangkitnya kembali bangsa ini di beberapa puluh tahun kedepan tidak akan pernah luntur. Karena masih ada manusia Indonesia yang tetap berjuang untuk tetap jujur, bertanggung jawab, disiplin, bekerjasama, adil, dan saling peduli. Saat itulah, masa dimana Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa lain. Dan, itulah Indonesia Emas.

 

Windmill – Time goes wherever you are

 

Sumber:
http://www.detiknews.com/read/2011/01/17/215655/1548749/10/sby-pertemuan-dengan-tokoh-lintas-agama-dari-hati-ke-hati
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1377/sikap_ksatria_dari_toyota_
http://id.wikipedia.org/wiki/Nelson_Mandela
http://en.wikipedia.org/wiki/Mohandas_Karamchand_Gandhi
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1980/04/26/KL/mbm.19800426.KL53428.id.html

Note : Tulisan ini pernah dimuat sebelumnya di Kolom Kita

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Repost, Teropong Negeri Emas and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s