Perang (Abadi) Korea

Sumber : http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/2116/perang_abadi_korea_

Pukul 14.30 waktu Korea, sedikitnya 200 peluru artileri ditembakkan oleh pasukan Korea Utara kepada Pulau Yeonpyeong yang hanya berjarak sekitar 80 km dari Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan. Kejadian Selasa 23 November itu menghancurkan 60-70 rumah, melumpuhkan jaringan listrik, serta menewaskan dua marinir dan mencederai puluhan lainnya yang diantaranya adalah masyarakat sipil. Atas serangan ini, Korea Selatan kemudian membalas dengan sedikitnya 80 tembakan serta mengirimkan satu pesawat tempur. Ini adalah serangan terburuk sejak kedua negara bertetangga ini melakukan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea pada 1953.

Rapat mendadak segera digelar oleh pemerintah Korea Selatan untuk mengambil tindakan tegas jika aksi provokasi tersebut terus dilancarkan. Namun, Presiden Korea Selatan, Lee Myung-Bak, menyerukan upaya untuk meredam aksi saling tembak.

Akibat dari serangan provokasi ini, tidak hanya menimbulkan keresahan di Korea Selatan tetapi juga mampu membangunkan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, dari tidurnya. Menurut harian USA Today, Obama terpaksa dibangunkan pejabat Gedung Putih dari tidur walaupun saat itu baru pukul 03.55 atau Selasa dini hari waktu setempat.

Obama mendapatkan kabar bahwa Korea Utara baru saja menyerang Pulau Yeonpyeong dan kemudian dibalas oleh tembakan artileri Korea Selatan. Bagi para pengamat, isu Korea Utara akhirnya menjadi prioritas utama bagi kepentingan luar negeri Amerika Serikat saat ini. “Umumnya, Korea Utara tidak menjadi masalah level atas. Namun peristiwa baru-baru ini membuatnya menjadi prioritas tinggi,” kata Victor Cha, pengamat dari Center for Strategic and International Studies.

Pro dan Kontra
Beberapa negara seperti Rusia, Jepang, dan negara-negara Eropa mengecam keras penyerangan provokasi Korea Utara terhadap Korea Selatan. Kecaman tersebut juga di keluarkan oleh PBB. Sekjen PBB Ban Ki-moon menyebut penembakan artileri Korea Utara ini sebagai insiden terburuk sejak Perang Korea.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam atas terjadinya saling tembak antara Korea Utara dan Korea Selatan di pulau Yeonpyeong yang telah mengakibatkan korban di kalangan sipil. Pemerintah Indonesia mendesak kedua pihak untuk segera menghentikan permusuhan, melakukan upaya maksimal untuk menahan diri, dan menghindari terjadinya peningkatan ketegangan. Pemerintah Indonesia juga juga menggarisbawahi pentingnya dimulai kembali Six Party Talks untuk membahas seluruh aspek yang terkait dengan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.

Amerika Serikat menyatakan dukungan yang semakin kuat terhadap Korea Selatan setelah adanya penyerangan tersebut. Terlebih lagi, Amerika Serikat memiliki 28.500 tentara di Korea Selatan. “Presiden menegaskan kembali dukungan teguh Amerika Serikat untuk sekutu kami, Republik Korea, dan membahas cara-cara untuk meningkatkan perdamaian dan keamanan di semenanjung Korea ke depan,” demikian pernyataan Gedung Putih.

Di sisi lain, Pemerintah China lebih terkesan hati-hati dalam mengambil sikap atas penyerangan provokasi tersebut. Bahkan, media-media China menyebut penyerangan tersebut menunjukan “ketangguhan” Korea Utara. Berita-berita China menahan diri untuk tidak menyalahkan Korea Utara tetapi menyoroti klaim Korea Utara bahwa Korea Selatanlah yang memicu baku tembak. Para pakar mengatakan, pendekatan Beijing itu dipandu oleh keinginan untuk mendukung rezim Kim Jong-Il karena takut bahwa keruntuhannya bisa memicu banjir pengungsi ke China.

Perang Paham di Masa Lalu

Perselisihan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang terjadi pada tanggal 23 November 2010 tersebut tidak terlepas dari sejarah masa lalu, Perang Korea yang terjadi 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Perang ini dapat dikatakan sebagai “Proxy War” (perang yang diamanatkan). Sebuah perang antara negara Amerika bersama sekutunya dibantu PBB melawan Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet yang juga merupakan anggota PBB.

Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia, Britania Raya, dan beberapa negara lain di bawah bendera PBB. Sedangkan sekutu Korea Utara adalah Republik Rakyat China yang menyediakan kekuatan militer serta Uni Soviet yang menyediakan penasihat perang, pilot pesawat, dan persenjataan.

Menurut Wikipedia, Korea Utara memulai “Perang Pembebasan Tanah Air” dengan melakukan invasi darat dan udara dengan 231.000 tentara. Invasi ini berhasil menguasai objek dan wilayah sesuai dengan yang direncanakan seperti Kaes?ng, Chuncheon, Uijeongbu, dan Ongjin. Hasil ini diperoleh setelah Korea Utara mengerahkan 274 tank T-34-85, 150 pesawat tempur Yak, 110 pesawat pengebom, 200 artileri, 78 pesawat latihan Yak, dan 35 pesawat mata-mata. Korea Selatan yang belum siap berperang mendapatkan bantuan dari pasukan Amerika dan sekutunya dibawah pimpinan Jenderal MacArthur.

Presiden Amerika saat itu, Harry S. Truman, mengakui bahwa pertempuran ini berkaitan dengan usaha Amerika mencegah komunisme yang semakin mengglobal:

“Komunisme sedang beraksi di Korea, sebagaimana yang dilakuan Hitler, Mussolini, dan Jepang lakukan sepuluh, lima belas, dan dua puluh tahun yang lalu. Saya merasa yakin bila Korea Selatan dibiarkan jatuh, pemimpin Komunis akan semakin melebarkan kekuasaannya hingga ke negara dekat pantai kita sendiri. Jika komunis dibiarkan memaksakan kehendak mereka di Republik Korea tanpa perlawanan dari dunia yang bebas, negara-negara kecil lainnya akan kehilangan keberanian untuk melawan ancaman dan agresi dari tetangga Komunisnya yang lebih kuat.”

Negara Serumpun
Pada hakikatnya, baik Korea Utara maupun Korea Selatan merupakan dua negara dengan akar budaya dan leluruh yang satu. Ini dibuktikan dengan kesamaan bahasa resmi, Bahasa Korea, yang dipergunakan kedua negara. Kedua negara ini dahulunya pernah disatukan oleh Kerajaan Silla untuk pertama kali pada tahun 676.

Pada tahun 1870, Jepang berusaha menjajah Korea kembali setelah kegagalan penyerangan sebelumnya pada tahun 1592-1598. Pada tahun 1910, Jepang mulai menjajah Korea. Dengan menyerahnya Jepang di tahun 1945, PBB membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat, namun rencana tersebut tidak terlaksana. Barulah pada tahun 1948, pemerintahan baru terbentuk yaitu Korea Selatan (Paham Demokratik) dan Korea Utara (Paham Komunis) yang dibagi oleh garis lintang 38 derajat.

Masih Ada Sedikit Cinta Yang Menyatukan
Di tengah ketegangan di Pulau Yeonpyeong, ternyata ada hal yang mampu menghibur dan menyatukan kedua negara tersebut. Asian Games yang berlangsung pada tanggal 12-27 November 2010 di Guangzhou China mampu memersatukan kedua negara yang sedang bersitegang.

Kepada kantor berita Yonhap, Ketua Perutusan Korea Selatan untuk Asian Games, Lee Kee-Heung, menyatakan bahwa ia berencana mengesampingkan masalah politik dalam Asian Games. “Jika kami menjumpai atlit Korea Utara atau pejabatnya, kami akan menyemangati mereka dan mendukung penuh yang akan dibutuhkan,” kata Lee.

Kabar dari salah satu stasiun televisi berita di tanah air menyebutkan atlet panahan Korea yang meraih medali emas bersanding satu podium dengan atlet Korea Utara yang meraih medali perak. Atlet Korea Selatan terlihat menyalami dan menyapa atlet Korea Utara. Padahal, disaat yang bersamaan, ketegangan tengah terjadi di kedua negara pascapenyerangan Korea Utara atas Korea Selatan.

Kasus perselisihan antara dua atau lebih negara/wilayah yang serumpun karena paham atau keyakinan tidak hanya terjadi di Korea. Indonesia dan Malaysia, dua negara dengan latar belakang budaya, leluhur, dan sejarah yang sangat erat dan tak terpisahkan. Tetapi, ketegangan antar dua negara tersebut masih saja kerap terjadi.

Tak hanya konflik antarbangsa. Di negara kita, Indonesia, saja kerap terjadi perselisihan antarsuku atau antarkeyakinan. Seperti kasus yang belum lama ini terjadi di Tarakan dan dibeberapa wilayah lain di Indonesia.

Patutlah dipahami bahwa perbedaan akan selalu ada di manapun dan kapanpun karena perbedaan itulah yang sebenarnya menjadi warna dalam kehidupan. Langkah terbaik untuk menyikapinya adalah dengan saling menghormati perbedaan yang ada dengan cinta.

Windmill–Time Goes Wherever You Are

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Repost, Teropong Negeri Emas and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s