TKI; Hingga Titik Darah Penghabisan

 

Kondisi Sumiati

Sumiati Binti Salan Mustapa seorang TKW asal Dompu Nusa Tenggara Barat adalah satu dari sekian banyak potret Tenaga Kerja Indonesia (baca: pembantu) di luar negeri yang kemudian harus menanggung penderitaan seumur hidup berupa cacat secara fisik maupun mental akibat penganiyaan majikan. Berbagai penyiksaan diterimanya selama bekerja di Saudi Arabia; mulai dari pemukulan, tubuh yang disetrika, hingga pengguntingan bibir.

“Kondisinya sangat serius,” kata Miea Mirlina, petugas di RS King Fahd. Dia menjelaskan luka parah yang diderita pasiennya itu, yaitu luka bakar di sejumlah bagian badan, kedua kaki nyaris tak bisa digerakkan, kulit kepala terkelupas, dan sejumlah luka lama yang dalam di tubuhnya termasuk kulit di bibir dan kepala hilang, jari tengah retak dan potongan di dekat mata. “Tubuhnya menunjukkan bagaimana buruknya dia diperlakukan,” ujar Mirlina.

Belum selesai dengan kasus Sumiati, potret TKI diperburuk lagi dengan kabar meninggalnya Kikim Komalasari seorang TKW asal Cianjur Jawa Barat yang diketemukan meninggal akibat dibunuh dengan cara digorok dan jasadnya dibuang ke tempat sampah, kejadian ini terjadi 3 hari sebelum Idul Adha.

Tidak seburuk nasib Sumiati dan Kikim, nasib Niken Dewi Roro Mendut seorang TKW asal Jember dapat dikatakan masih termasuk beruntung. Meskipun mengaku sering mendapatkan penyiksaan dan sempat hampir bunuh diri sebanyak 2 kali, namun ia tidak harus kehilangan nyawa ataupun mendapatkan perawatan serius di rumah sakit.

Dalam sepekan ini setidaknya ada tiga kisah pilu buruh migran di Arab Saudi yang terungkap, maka tidak salah jika kemudian peristiwa ini mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Republik Indonesia, bahkan Presiden SBY menggelar rapat terbatas untuk menyikapi adanya tindakan kekerasan dan dugaan pembunuhan yang menimpa TKW di Arab Saudi. SBY meminta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar untuk mengkaji pengiriman TKI ke Saudi. Sebagai langkah kongkritnya, Presiden meminta agar setiap TKI harus dibekali dengan Hand Phone agar dapat menghubungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia.

Kasus ini bukan yang pertama kalinya terjadi menimpa TKI, pada bulan Agustus 2009 Siti Hajar 33 tahun, pembantu rumah tangga asal Garut Jawa Barat disiksa majikannya selama tiga tahun bekerja di Malaysia.

21 Maret lalu Fauziah diketahui tewas karena terjatuh dari lantai lima apartemen Distari Impian Johor Bahru setelah satu minggu bekerja untuk majikannya Tay Yen Leng. Laporan resmi Konjen RI di sana, Fauziah bunuh diri karena sebab yang tidak diketahui.

Wi (26), TKI asal Lampung selain mengalami penganiayaan fisik juga menjadi korban pemerkosaan. Dia kemudian dibuang pelaku di jalan dan ditemukan warga pada 13 September 2010.

Impian Perbaikan Hidup

Sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji tinggi di negeri sendiri menjadi salah satu alasan tingginya minat bekerja di luar negeri, belum lagi rendahnya kualitas tenaga kerja menjadikan tenaga kerja asal Indonesia hanya mampu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Iming-iming dari agen penyedia tenaga kerja juga dituding terlalu berlebihan dan tidak jarang jauh dari kenyataan yang diharapkan.

Kikim Komalasari sendiri seharusnya menerima gaji sebesar 2 juta rupiah per bulan, namun harga tersebut tidaklah seimbang jika dibandingkan dia harus merelakan nyawanya ditangan majikan. Bahkan beberapa TKI lainnya harus menerima penyiksaan atau gajinya tidak dibayarkan hingga berbulan-bulan. Pemberian gaji yang tidak sesuai dengan kontrak serta minimnya pemberitahuan mengenai hak dan kewajiban para TKI menjadi penderitaan tersendiri yang harus ditanggung oleh para pekerja ketika mereka sudah berada di luar negeri.

Tidaklah dipungkiri jika bekerja di luar negeri mampu mengangkat derajat sosialnya di masyarakat, sama halnya dengan masyarakat Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. Gengsi inilah yang juga menunjang tingginya animo masyarakat untuk bekerja di luar negeri,  belum lagi kondisi keluarga yang memprihatinkan serta malu kembali ke Indonesia jika belum sukses di luar negeri yang menjadi alasan tersendiri bagi para tenaga kerja untuk tetap bertahan atau kembali bekerja di luar negeri.

Terabaikan Dan Minim Perlindungan

Pada tahun 2009 saja devisa TKI melalui pengiriman remitansi ke Tanah Air mencapai US$ 6,617 miliar.

“TKI menyumbang devisa terbesar kedua setelah migas,” kata Ketua Pergantian Antar Waktu (PAW) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Adi Putra Tahir dalam acara Seminar Nasional Mengurai Benang Kusut Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri di Hotel Bidakara Jakarta.

Maka bukanlah berlebihan jika gelar pahlawan kita sandangkan pada para TKI, selain merupakan pahlawan bagi keluarga mereka juga adalah pahlawan bagi negara. Namun pada kenyataannya perlindungan secara hukum bagi para TKI sangat minim dan tidak jarang para pelaku kekerasan terhadap para TKI mampu lolos begitu saja dari jeratan hukum.

Bahkan kabar terbaru bahwa para wakil rakyat yang menemukan beberapa kasus yang merugikan para TKI diluar negeri bertingkah acuh pada penderitaan para TKI kita di luar negeri. Berikut ini adalah kutipan dari Waspada Online :

“Berita di salah satu portal berita menceritakan kejadian akhir Oktober 2010 lalu saat sejumlah TKI tertunda penerbangannya di Dubai. Saat bersamaan, terdapat rombongan anggota DPR yang juga transit usai kunjungan kerja ke Moskow berkaitan Rancangan Undang-undang Rumah Susun. Di berita itu, para anggota Dewan disebutkan tak acuh dengan para TKI yang kelabakan karena penerbangan tertunda karena keterbatasan bahasa asing yang mereka kuasai. Sejumlah warga Indonesia non-TKI yang juga transit justru berinisiatif membantu para TKI. Beberapa di antara mereka kemudian membuka cerita ke media.”

Hingga Tetes Darah Penghabisan

Semangat para TKI untuk bekerja di luar negeri memang tidak akan pernah surut walaupun mereka dihadapkan pada beberapa kasus teman mereka yang mengalami kekerasan fisik dan mental atau harus merelakan nyawanya di tangan majikan. Sulitnya kondisi ekonomi dan keadaan keluarga menjadi alasan utama disamping kepentingan gengsi.

Kondisi perekonomian di Indonesia saat ini memang masih belum mampu mendukung mereka para pekerja non skill, mereka tidak mampu dihargai dengan tinggi atau pantas di negeri sendiri. Disamping tingkat pendidikan yang rendah, keinginan yang tinggi untuk memperoleh perbaikan hidup secara materi membutakan kesadaran para TKI akan resiko yang harus mereka hadapi ketika bekerja di luar negeri. Belum lagi eksploitasi TKI oleh para agen penyedia tenaga kerja serta bebrapa oknum petugas pemerintah lebih banyak merugikan para TKI itu sendiri, alih-alih memperoleh perbaikan hidup malah musibah yang dibawa kembali ke Tanah Air.

Sumber :

http://www.detiknews.com/read/2010/11/15/085739/1494220/10/tkw-di-arab-saudi-yang-mulutnya-digunting-itu-bernama-sumiati
http://www.detiknews.com/read/2010/11/19/134635/1497642/10/menlu-majikan-kikim-telah-ditahan-polisi-arab-saudi
http://www.detiknews.com/read/2010/11/19/145711/1497732/10/tkw-dewi-roro-mendut-menjerit-minta-pulang-dari-saudi
http://www.detiknews.com/read/2010/11/19/154545/1497789/10/tidak-dihormati-lebih-baik-tki-di-saudi-dipulangkan
http://www.detiknews.com/read/2010/11/19/135647/1497668/10/sby-minta-menaker-evaluasi-pengiriman-tki-ke-arab-saudi
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157366:ironis-anggota-dpr-tega-abaikan-tki&catid=17:nasional&Itemid=30
http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/berita/845-tki-sumbang-devisa-negara-terbesar-kedua-setelah-migas-.html
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/08/18/brk,20090818-193111,id.html
http://www.tribunnews.com/2010/04/23/kasus-tkw-tewas-di-malaysia-masih-gelap
http://gresnews.com/ch/TopStories/cl/Dai/id/1515845/Presiden+Tegaskan+Kawal+Kasus+TKW+di+Malaysia

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Suara Alumni ESQ, Teropong Negeri Emas and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s