Novie Anne: Dari Clubbing ke Senandung Shalawat

Sumber : ESQ Magazine Online
Source Link…

Novie AnneMeskipun karirnya tergolong sukses sebagai penyelenggara hiburan malam (night entertainment event organizer), Novi Anne rela meninggalkannya setelah mengikuti training ESQ.

Anne mulai mengenal clubbing atau dugem (du nia gemerlap) ketika beranjak dewasa (ABG), saat itu salah seorang temannya mengajak ke sebuah tem pat hiburan malam. Di kalangan sebagian remaja muncul anggap an, jika belum pernah pergi ke club, berarti belum gaul.

Dengan niat coba-coba, ia pun pergi clubbing dengan teman seba yanya. Dunia malam yang bernuansa kebebasan, ekspresif, mo dern, hedonis, dan konsumeristik serta menjanjikan kegembiraan sesaat itu, begitu memikat dirinya. Anne pun menikmati dunianya, hingga ia pun tidak pernah melewatkan hari liburnya tanpa pergi ke club favoritnya.

Anne merupakan pribadi yang tak bisa diam, ia selalu mengisi waktu dengan berbagai kesibukan, bahkan ketika SMA ia sudah mencari pekerjaan. Mulai dari hobi clubbing, Anne berpikir untuk menjadi penyelenggara acara spesialis hiburan malam atau event organizer (EO) night entertainment. Dengan begitu ia bisa menyalurkan hobby nya sekaligus mendapat pemasuk an tambahan.

Dengan semangat tersebut Anne mengajak rekan-rekannya untuk bergabung, di EO bentuk annya Anne bertindak sebagai humas. Anne mempunyai tugas pokok untuk mengajak orang sebanyak mungkin datang ke acara yang ia gelar. Selain itu, ia mempunyai tugas untuk membuat konsep acara semenarik mungkin, supaya acaranya sukses.

Dengan kegiatan yang ia geluti, Anne sudah bisa mendapatkan uang saku tambahan bahkan ter bilang besar bagi anak seusianya. Ia bisa mengantongi uang antara 2-3 juta per event, dalam sebulan ia bersama rekan-rekannya bisa mengadakan 3-4 acara.

“Saya tidak tahu uang yang didapat habis untuk apa, karena setiap dapat uang kita selalu foya-foya dan membuat party sendiri,” ungkap wanita kelahiran 9 November 1988 itu.

Anne semakin terbuai dengan dunianya saat itu, ia pun mengajak Rara sahabat karibnya untuk datang ke acara yang ia buat. Namun Rara selalu menolak ajakan Anne dan mengatakan sedang sibuk dalam Forum Silaturrahmi Mahasiswa (Fosma) ESQ.

Anne menanyakan apa itu ESQ? Rara menerangkan bahwa ESQ adalah lembaga training pengembangan diri sehingga ia dapat mengembangkan potensi di dalam diri. Mendengar penjelasan sahabatnya, Anne pun tertarik untuk mengikuti training tersebut karena ia berpikir siapa tahu ada ilmu yang bisa ia dapat melalui training tersebut. Anne pun mendaftar dan tergabung dalam training ESQ Mahasiswa angkatan 33 Jakarta.

Di hari pertama putri dari pasangan H. Dadang Iskandar dan Hj. Yuliani ini hanya tidur dalam training, karena ia lelah usai beraktivitas di malam hari dan pagi-pagi buta sudah berangkat training. Dalam suasana training yang gelap dan dingin, Anne pun tertidur. Kemudian ia terbangun saat materi Inner Journey karena mendengar peserta menangis. Saat materi tersebut Anne merasa kesal karena para peserta disuruh membayangkan orang tuanya telah tiada. “Ini training apa sih, orangtua saya baik-baik saja masa disuruh membayangkan meninggal.”

Hari kedua, ia ditanya tentang apa yang diinginkannya dan disu ruh mengucapkan segala keinginan tersebut. Anne pun me nyebutkan keinginannya se perti ingin kaya, ingin uang, ingin EO semakin maju dan seterusnya. “Tiba-tiba bibir saya terasa kelu dan tidak dapat mengucapkan apa keinginan saya, karena saya bingung apalagi yang harus saya minta dan untuk apa saya meminta itu semua.”

Hampir dua hari training ber jalan ia tidak menangis sama se kali, tetapi usai materi tersebut, ia menangis sejadi-jadinya. Anne tersadar, ternyata segala yang ia minta hanya kesenangan yang semu dan tidak hakiki.

Untuk pertama kalinya Anne berdoa sepenuh hati, “Ya Allah tunjukkan siapa hamba sebenarnya dan tunjukkan jalan hidupku.”

Trainer ESQ saat itu, bertanya kepada para peserta: Apakah selama ini sudah mengucapkan syahadat dengan se penuh keyakinan jiwa raga? Anne pun menjawab belum, karena memang ia merasa belum pernah meyakini Allah de ngan sepenuh keyakinannya seperti saat ini. “Saya baru tahu, ternyata Allah lebih dekat dari urat nadi yang ada di leher kita.”

Sepulang dari training, hatinya gundah dan bertanya-tanya, apa kah ia harus meneruskan event organizer kegiatan malam ini? Akhirnya, suatu hari hatinya mantap untuk meninggalkan event organizer bentukannya. Ia menyesal telah menjadi penyelenggara acara yang banyak diselimuti dengan kemaksiatan dan mengajak generasi muda ke jurang kesesatan.

Setelah meninggalkan pekerjaan lamanya, Anne terus menambah ilmu keagamaan dan rajin menghadiri training-training ESQ sebagai Alumni Training Support (ATS). Saat ini Anne telah meng abdikan diri seutuhnya untuk meng ajak orang kembali ke jalan Allah SWT.

Anne telah berkomitmen untuk menggunakan pakaian sesuai de ngan ajaran Islam dan meninggalkan segala pakaian seksi yang biasa dipakai ke clubbing. Bahkan ia kini tergabung dalam grup “Shalawat Tabina 165” yang senantiasa menyenandungkan lirik-lirik religius. (joko/ida)

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Berbagi, Dari Alumni and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s