EVOLUSI MUNDUR DUNIA PENDIDIKAN

Sekitar tahun 1960-1970 Indonesia mengirimkan tenaga pengajar (guru) ke Malaysia atas permintaan pemerintah Malaysia karena pertimbangan bahwa kualitas guru di Indonesia memang sangat baik serta pertimbangan kesamaan budaya dan bahasa antara kedua negara. Tak hanya Malaysia, Singapura dan Thailand pun turut serta belajar ke Indonesia dikala itu. Waktu berlalu, lantas bagaimanakah wajah pendidikan Indonesia sekarang?Pada tanggal 16 Mei 2011, tepatnya setelah 4 hari ujian nasional berakhir, Siami mengetahui bahwa putranya Alif diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan jawaban kepada siswa lainnya di dalam kelas. Siami lantas mengkonfirmasi hal ini pada kepala sekolah. Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ia lalu mengadu ke komite sekolah namun tak kunjung mendapat tanggapan, ia pun membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya hingga akhirnya laporan tersebut sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Setelah dilakukan proses penyidikan, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggung jawab yaitu satu kepala sekolah dan dua guru. Sanksi pada tiga pendidik ini lantas memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai Siami dan keluarganya tak punya hati, serta telah mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya. Puncaknya terjadi pada Kamis 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II menuntut Siami meminta maaf dan mengusir Siami sekeluarga dari kampung.

Kasus tersebut adalah dampak dari buruknya sistem pendidikan Indonesia saat ini yang lebih mengedepankan kecerdasan intelektual sebagai standar kesuksesan, dimana standar keberhasilan peserta didik diukur dari seberapa bagus nilai ujiannya. Dampak yang muncul kemudian adalah para peserta didik menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan nilai terbaiknya dalam ujian termasuk mencontek.

Pendidikan nasional dinilai gagal dalam membangun karakter bangsa, padahal seharusnya pendidikan nasional berbasiskan pada pendidikan karakter. Di sisi lain, dunia pendidikan Indonesia hingga kini masih saja diwarnai oleh berbagai tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang tak jarang memakan korban luka dan korban jiwa (bahkan hanya karena berlatar belakang hal sepele).

Budayawan Garin Nugroho mengatakan sampai saat ini dunia pendidikan di Indonesia dinilai belum mendorong pembangunan karakter bangsa. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran dalam pendidikan tidak dikembalikan pada karakter peserta didik, tapi dikembalikan pada permintaan pasar. “Pendidikan nasional belum mampu mencerahkan bangsa ini. Pendidikan kita kehilangan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Padahal, pendidikan seharusnya memberikan pencerahan nilai-nilai luhur itu,” katanya. “Maka janganlah heran jika film horor banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, karena pasti hantu atau setan dalam film horor Indonesia lebih bisa memberi nasihat moral yang mencerahkan” kelakar Garin.

Di lain kesempatan, seusai menyaksikan film Laskar Pelangi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa film ini menunjukkan seperti apakah karakter pelajar Indonesia. Tidak disangsikan lagi bahwa film yang berdasarkan pada kisah nyata dunia pendidikan di salah satu daerah terpencil di Indonesia ini sarat akan pesan moral dan nilai-nilai luhur dunia pendidikan yang mungkin sangat sulit dijumpai di masa sekarang. Film ini pulalah yang menjadi oase bagi gersangnya dunia film Indonesia yang dipenuhi oleh tema horor dan komedi dewasa.

 

Kualitas Pendidikan Yang Menurun

Proses pendidikan nasional kita tidak akan pernah terlepas dari keberadaan Ujian Nasional yang menjadi penentu akhir dari perjalanan peserta didik dalam menempuh masa pendidikannya. Ujian ini menjadi standar penilaian nasional bagi seluruh sekolah di tiap daerah di Indonesia yang kemudian menjadi polemik tersendiri setiap tahunnya karena ternyata masing-masing daerah memiliki potensi, kemampuan, dan bahan acuan yang berbeda dalam melangsungkan pendidikannya.

Beberapa kasus yang melibatkan para pendidik pun dinilai sebagai salah satu penyebab buruknya sistem pendidikan nasional. Belakangan ini mencuat ke permukaan beberapa kasus tercela dengan maraknya pemberitaan tindak kekerasan di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh tenaga pendidik seperti kasus “jewer massal” yang menimpa 2 anak SD di Tebing Tinggi dan penamparan siswa secara masal di SMPN I Mojoagung.

Hampir seluruh kalangan masyarakat saat ini sangat menyoroti dunia pendidikan Indonesia, karena  disadari atau tidak, pendidikan adalah kebutuhan bersama dan merupakan salah satu hak azazi manusia. Beberapa sangat menyayangkan diadakannya ujian nasional karena dirasakan kurang efektif, membuang uang negara, dan sangat membebani para peserta didik; bagaimana tidak membebani jika proses belajar selama 3 tahun hasilnya hanya ditentukan oleh ujian selama 3 hari? Bukankah lebih penting untuk menanamkan rasa percaya diri pada para peserta didik dibandingkan dengan memberikan kecemasan yang berpotensi mengakibatkan stress?

Simaklah lirik lagu Whitney Houston  berjudul Greatest Love Of All berikut :

“I believe the children are our future, teach them well and let them lead the way, show them all the beauty they possess inside, give them a sense of pride to make it easier. Let the children’s laughter remind us how we used to be”

Lihat video disini : http://www.youtube.com/watch?v=IYzlVDlE72w

Ada Sisi Yang Perlu Digali Lebih Dalam

Bodoh dalam menempuh pendidikan, belum tentu bodoh dalam menjalani kehidupan. Beberapa tokoh dunia bahkan mampu menunjukkan bahwa ada yang salah pada sistem pendidikan mereka yang memaksaan kecerdasan intelektual, berikut adalah beberapa tokoh dunia yang berjasa besar pada perkembangan hidup manusia namun di saat menempuh pendidikannya, mereka dinyatakan “BODOH” oleh sistem pendidikannya.

Albert Einstein
Albert Einstein lahir di Ulm, Württemberg Jerman pada tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat pada tanggal 18 April 1955 (di usia 76 tahun). Ia adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dinobatkan sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20 dan tokoh abad ini. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan pengabdiannya bagi Fisika Teoretis.

Dimasa kecilnya ia dianggap sebagai pelajar yang lambat, hal ini disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena terdapat struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya; pendapat lain mengatakan bahwa ia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autism.

Sir Issac Newton
Sir Isaac Newton FRS terlahir prematur di Woolsthorpe, Colsterworth, Lincolnshire Inggris pada tanggal 4 Januari 1643 dan meninggal pada tanggal 31 Maret 1727 (usia 84 tahun). Ia adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog. Ia merupakan pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapaknya ilmu fisika klasik. Karya bukunya berjudul Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica (1687) dianggap sebagai buku paling berpengaruh sepanjang sejarah sains.

Sampai sekarang pun Newton masih sangat berpengaruh di kalangan ilmuwan. Sebuah survei tahun 2005 yang mensurvei para ilmuwan dan masyarakat umum di Royal Society mengenai siapakah yang memberikan kontribusi lebih besar dalam sains, apakah Newton atau Albert Einstein, menunjukkan bahwa Newton dianggap memberikan kontribusi yang lebih besar.

Dimasa menempuh pendidikannya, Isaac Newton dikenal gemar melamun sehingga dijuluki “Day Dreamer”. Di sekolah tersebut ada semacam kebiasaan dimana anak-anak pandai selalu duduk di baris depan dan anak-anak kurang pandai duduk di baris belakang, tebak dimanakah Isaac Newton duduk? Ia berada di baris belakang. Ia selalu menunjukan ketidak tertarikannya pada pelajaran yang diterima hingga Ibunya berupaya menariknya dari sekolah tersebut untuk dijadikan petani. Namun Ia tetap melanjutkan sekolahnya atas permintaan pihak sekolah dan kemudian menjadi ilmuwan besar.

Thomas Alva Edison
Thomas Alva Edison terlahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari 1847 dan meninggal pada tanggal 18 Oktober 1931 (usia 84 tahun). Ia adalah penemu dan pengusaha yang mengembangkan banyak peralatan penting. Tokoh yang dijuluki “Si Penyihir dari Menlo Park” ini merupakan salah seorang penemu pertama yang menerapkan prinsip produksi massal pada proses penemuannya.

Pada masa kecilnya, Edison selalu mendapat nilai buruk di sekolah sehingga ibunya memberhentikannya dari sekolah dan mengajar sendiri di rumah. Di rumah dengan leluasa Edison kecil dapat membaca buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Pada Usia 12 tahun ia mulai bekerja sebagai penjual koran, buah-buahan dan gula-gula di kereta api. Kemudian ia menjadi operator telegraf, dan selalu berpindah dari satu kota ke kota lain.

Pada tahun 1870 ia menciptakan mesin telegraf yang lebih baik yang dapat mencetak pesan-pesan di atas pita kertas yang panjang. Pada tahun 1874 ia pindah ke Menlo Park, New Jersey dan membuat sebuah bengkel ilmiah besar dan pertama di dunia. Pada tahun 1877 ia menemukan Gramofon. Tahun 1879 ia berhasil menemukan lampu listrik dan menemukan proyektor untuk film-film kecil. Tahun 1882 ia memasang lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Inilah kali pertama di dunia, bahwa lampu listrik digunakan untuk menerangi jalan. Pada tahun 1890, ia mendirikan perusahaan General Electric.

Edison dipandang sebagai salah seorang pencipta paling produktif pada masanya karena memegang rekor 1.093 hak paten atas namanya. Ia juga banyak membantu dalam bidang pertahanan pemerintahan Amerika Serikat. Beberapa penelitiannya antara lain : mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi.

Masatoshi Koshiba
Masatoshi Koshiba lahir di Kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Ia adalah fisikawan Jepang yang memenangkan Penghargaan Nobel dalam bidang Fisika pada 2002 bersama dengan Raymond Davis, Jr dan Riccardo Giacconi

Keputusannya untuk mendalami fisika justru dipicu oleh kata-kata guru lain yang secara tidak sengaja didengarnya. Menurut guru itu, Koshiba tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika karena nilai-nilainya di mata pelajaran eksakta sangat buruk. Komentar inilah yang membuat Koshiba kemudian memilih jurusan fisika di Tokyo University.  Saat pertama kali mendaftar di Tokyo University, Koshiba mendapatkan penolakan, namun ia mencoba kembali untuk kedua kalinya. Usahanya yang pantang menyerah itu pun membuahkan hasil. Koshiba mulai mempelajari fisika di Tokyo University dan lulus namun dengan nilai terendah.

Koshiba kemudian mendaftarkan diri ke University of Rochester, Amerika Serikat dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan “His results are not good, but he’s not that stupid”. Ia diterima di University of Rochester dan mendapatkan gelar PhD tahun 1955.

Richard Branson
Sir Richard Charles Nicholas Branson lahir di Blackheath, London pada tanggal 18 Juli 1950. Ia adalah seorang industrialis asal Inggris yang terkenal karena telah mendirikan 360 perusahaan di bawah bendera Virgin Group. Ia juga didaulat menjadi orang terkaya ke-261 menurut daftar orang terkaya 2009 versi Forbes, dengan estimasi kekayaan £2.6 miliar (US$3.9 miliar).

Siapa sangka dimasa sekolahnya, Branson harus berjuang keras dibidang akademis karena masalah dyslexia atau masalah ketidakmampuan yang relatif tidak terdiagnosis. “Karena tidak ada yang pernah mendengar tentang disleksia, jika Anda kesulitan membaca, menulis atau berbicara oleh seluruh teman dikelas dan guru, Anda dianggap sebagai orang yang malas atau bodoh,” ujarnya. “Dan disekolah, Anda harus menerima hukuman untuk hal itu.”

Berkaca Pada Tetangga

Jika ada yang salah pada sistem pendidikan nasional, mengapa kita tidak mencoba menurunkan gengsi dan ego untuk sedikit berkaca pada kesuksesan beberapa negara di dunia dalam bidang pendidikannya? Berikut ini adalah gambaran beberapa negara yang dianggap berhasil dalam mengembangkan sektor  pendidikannya dan berhasil mencetak manusia-manusia berpendidikan dan tetap berkarakter luhur sehingga tercermin dari keberhasilan negara tersebut untuk bangkit dari krisis antara lain :

Finlandia
Negara ini dapat dikatakan sebagai negara yang unggul dalam bidang sains dan teknologi. Ada keunikan dalam sistem pendidikan disana yaitu tidak ada satu pun warga negara yang tidak berpendidikan, tenaga pengajar adalah tenaga berkualitas tinggi karena merupakan hasil seleksi ketat dari para lulusan universitas terkemuka, ujian nasional hanya akan ditemui di level pendidikan setingkat SMU, jam pelajaran sangat sedikit (sekitar 3 jam sehari) dan siswa berhak memilih mata pelajaran yang mereka sukai.

China
Di China para peserta didik tidak dibebani oleh biaya pendidikan, itu artinya biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, para tenaga pendidik dibayar sangat mahal oleh pemerintah dan disertai tunjangan yang sangat besar, posisi tenaga pengajar termasuk sebagai profesi yang sangat dihormati. Tidak ada satu pun peserta didik yang berani menghina atau merendahkan gurunya.

Jepang
Dikisahkan pasca pemboman Hiroshima dan Nagasaki, hal pertama yang dilakukan oleh kaisar Jepang adalah mensensus berapa banyak tenaga pengajar (guru) yang tersisa. Begitu besar fungsi guru bagi bangsa Jepang sehingga posisinya diletakkan lebih tinggi dari tentara yang saat itu berjuang membela negara. Hingga saat ini kehormatan seorang guru berada setingkat dengan hakim, jaksa, dan profesi terhormat lainnya.

Guna meningkatkan kualitas pendidikannya pemerintah Jepang menerapkan kebijakan untuk menerjemahkan pelbagai buku asing dari perbagai bidang ilmu ke dalam bahasa Jepang sehingga mudah dipelajari oleh masyarakatnya. Jepang juga menerapkan program gemar membaca, maka tak heran jika di setiap kesempatan di berbagai tempat di Jepang kerap ditemui orang-orang yang sedang membaca.

Kuba
Negara republik  berfaham komunis yang terkenal sebagai produsen cerutu ini menerapkan aturan ketat dalam bidang pendidikan antara lain : mengratiskan biaya pendidikan hingga jenjang universitas, 1 guru untuk 25 murid untuk pendidikan setingkat SMP, dan 1 guru untuk 12 murid untuk pendidikan setingkat SMU. Dengan berbagai kondisi yang saat ini tengah dialaminya, Kuba tetap memperhatikan serius sektor pendidikannya.

Singapura
Negara yang baru merasakan kemerdekaan pada tanggal 9 August 1965 ini melesat menjadi negara yang sangat diperhitungkan dalam perdagangan dunia. Di negara ini tidak ada satupun warga negaranya yang tidak berpendidikan itu artinya setiap orang memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Pemerintah pun membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat dunia untuk masuk ke Singapura untuk mendapatkan dan memberikan pendidikan.

Jika dahulu Indonesia pernah membuktikan sebagai negara yang patut diperhitungkan oleh dunia karena pendidikannya, maka sangatlah mungkin di suatu saat kelak Indonesia akan mampu mencapai kembali kehormatannya sebagai negara berpendidikan dimana setiap warga negaranya adalah para manusia yang terdidik. Pemerataan pendidikan dan persamaan hak atas pendidikan mutlak menjadi sektor yang paling utama (sehingga seharusnya anggaran belanja negara di sektor pendidikan ditingkatkan. Pendidikan juga sudah semestinya diselenggarakan sebagai upaya untuk membangun karakter luhur manusia Indonesia, sehingga dalam prakteknya tetap berada dalam koridor nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia.

Bangkitlah pendidikan Indonesia, bangkitlah pendidik Indonesia…..

Source : Metro Highlights

WindmillTime goes wherever you are

Note : Artikel ini telah tayang sebelumnya di esq-news.com

About these ads

About windmill

Seorang hamba Allah SWT yang terus berusaha bersemangat dalam menjalani hidup. Suami yang berusaha untuk setia dan bertanggungjawab. Ayah yang berusaha menyayangi dan menjadi teladan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s